Arena of Valor

[EKSKLUSIF] Ini Penjelasan Kepala Pembinaan SMA 1 PSKD Mengenai Program Beasiswa Esports

Mulai dari persyaratan hingga apakah adanya tuntutan untuk menyabet gelar, dibahas tuntas oleh beliau!


GGWP.ID juga punya konten video lho! Subscribe channel Youtube GGWP.ID di sini, dan add official LINE GGWP.ID di sini untuk giveaway, update breaking news, dan diskon voucher AOV!

Joey Siagian, mungkin untuk beberapa orang akan asing mendengar namanya. Namun untuk penikmat esports pastinya tidak akan lupa dengan nama ini. Beliau adalah mantan Kepala Sekolah dari SMA 1 PSKD yang baru-baru ini mengeluarkan beasiswa esports untuk sekolahnya.

Saat ini beliau menjabat sebagai Kepala Pengembangan Program Pembinaan SMA 1 PSKD dan juga Vice President dari salah satu organisasi Esports terkemuka di Indonesia, EVOS Esports.

Namun yang pasti, Joey ,yang juga sapa dipanggil Kak Jo oleh murid-muridnya, berperan besar dalam pengkajian program ini.

GGWP berhasil mengontak beliau untuk diwawancara mengenai program yang digadang-gadang akan sangat berguna untuk mencari bibit-bibit muda di dunia Esports.

Pendaftaran program pembinaan esports SMA 1 PSKD Thn. Ajaran 2019/2020 resmi dibuka. Untuk tahun ajaran 2019/2020…

Posted by SMA 1 PSKD on Sunday, May 26, 2019

Pertanyaan pertama oleh pihak redaksi adalah kenapa hanya lima yang di-highlight oleh SMA 1 PSKD dan apa saja yang termasuk di dalam General Esports serta persyaratan dalam tiga kategori lainnya.

Kalau untuk game-gamenya, sebenarnya kita menjalankan banyak cabang, tapi saat ini ke 5 game tersebut yang paling aktif di ekosistem esports Indonesia. Karena salah satu tujuan program-program pembinaan kami adalah membantu murid mendapatkan pengalaman yang relevan untuk masuk ke industri esports Indonesia maka kami memulai dengan cabang cabang yang paling aktif di Indonesia.” Jawab beliau yang juga hobi bermain Overwatch ini.

Beliau juga menambahkan, “General esports itu kategori umum untuk pemain yang berprestasi/berpotensi di cabang yang mungkin belum terlalu di-support di Indonesia, seperti CS:GO, R6, Overwatch atau Hearthstone. Kita selalu membuka kemungkinan untuk menjalankan cabang baru atau lain, meskipun mungkin di Indonesia belum terlalu berkembang ekosistemnya, sehingga kami membuka jalur general esports untuk mewadahi.”

Kalau untuk 3 point ini (content creator, sosmed, dan casting) lebih ke arah passion dan kemauan berkerja keras, karena di usia ini sulit memberlalukan persyaratan seleksi. Also harus diingat, ini program “pembinaan” yang artinya mengajarkan yang belum bisa menjadi bisa. Jadi tidak boleh terlalu banyak menetapkan persyaratan di awal.” Jawab dirinya kembali.

Beasiswa Esports

Sumber: Hybrid.co.id

Isi dari beasiswa sendiri cukup beragam menurut Joey. Mulai dari 35% hingga beasiswa penuh dari biaya di sekolah. Hal itu juga sudah termasuk asrama, peminjaman gadget, dan sebagainya.

Scholarship bervariasi sesuai keadaan keluarga atau ekonomi, potensi calon peserta, pengajuan biaya, dan seterusnya. Pada umumnya berkisar dari 35% sampai dengan 80% tetapi bisa sampai 100%. Fasilitas bervariasi juga, sesuai dengan kebutuhan, tapi bisa sampai include asrama atau peminjaman gadget dan seterusnya.”  jawab dirinya kepada redaksi.

Untuk programnya sendiri, beliau mengaku sudah dimulai sejak tiga tahun yang lalu dan merupakan program rutin

Program sudah dimulai dari 3 tahun yang lalu dan merupakan program rutin. Kita memiliki berbagai program pembinaan di sekolah dan esports hanya salah satunya.” Jawab Jaey.

Dia juga menambahkan “Kemarin sempat sedikit repot planningnya ketika saya mundur dari jabatan kepala sekolah dan pindah ke EVOS, tapi sekarang sudah ada ada pemecahannya dan program sudah fix menjadi program rutin.”

Beasiswa Esports

Sumber: Facebook.com

Terakhir tentu saja redaksi menanyakan apakah ada ekspektasi untuk menjadi juara dari program beasiswa ini yang dijawab dengan bijaksana.

Tahun ini kami sedang mengubah konseptual programnya, selain mengembangkan skill dasar dan pemahaman esports, kami juga akan mulai aktif menyertakan murid murid kami dalam sebanyak mungkin event. Awalnya hal tersebut tidak memungkinkan, tetapi berkat dukungan dari beberapa pihak seperti Logitech dan Garena tahun ini kami bisa mencoba hal-hal baru. Apabila kami bisa mengembangkan level murid murid kami ke tingkatan yang sesuai, tidak menutup kemungkinan jami sertakan di event semipro juga, seperti ANC, atau PINC.” Jelas dirinya.

Lalu Sang kepala pembinaan juga menambahkan: “Salah satu miskonsep terbesar dalam “pembinaan” adalah bahwa “harus menang”. Itu suatu kesalahpahaman yang fatal.  Sebenarnya asal progresi dan perkembangan berjalan baik, seharusnya tidak pernah ada konsep “wajib menang” di tingkatan pembinaan. Goalnya adalah berkembang berkembang dan berkembang lagi.”

Menurut penulis sendiri, program dari SMA 1 PSKD sangatlah berguna untuk mencari bibit-bibit muda di dunia Esports. Hal ini sangatlah berarti karena regenerasi talenta belum terlihat sepenuhnya di dalam industri ini di Indonesia.

Content Creator yang ada pun masih jauh standard-nya jika melihat konten-konten yang ada di internasional. Semoga dengan adanya beasiswa ini, para pejuang Esports masa depan bisa menunjukkan taringnya dan membawa Indonesia sebagai raja di Industri ini.


Bagaimana menurut kalian? Sudah jelaskah penjelasan dari sang kepala pembinaan SMA 1 PSKD?



Tentang Penulis

Artikel Terkait