Setelah mencuri perhatian dalam world premiere di ajang Berlin International Film Festival, film terbaru produksi Come and See Pictures berjudul Ghost in the Cell akhirnya merilis official trailer.
Film ke-12 karya penulis dan sutradara Joko Anwar ini menjanjikan tontonan yang tak hanya mencekam, tetapi juga menghibur lewat balutan komedi satir yang relevan dengan situasi sosial-politik Indonesia.
Dari cuplikan trailer, penonton diperlihatkan atmosfer penjara yang penuh ketegangan. Dalam ruang sempit dan terkunci, para narapidana harus menghadapi teror yang tak kasatmata di tengah kekacauan yang terus membesar.
Kengerian supranatural berpadu dengan konflik antarmanusia, menciptakan tekanan psikologis yang intens sekaligus absurd.
Namun, Ghost in the Cell bukan sekadar film horor berlatar penjara. Joko Anwar menghadirkan metafora sosial yang tajam. Baginya, penjara dalam film ini adalah miniatur kehidupan rakyat saat ini.
“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar Joko Anwar.
Ia menambahkan bahwa film ini memang dirancang agar penonton bisa tertawa lepas, bukan semata karena kelucuannya, tetapi karena merasa melihat refleksi kehidupan sendiri di layar lebar.
Table of Content

