Disutradarai oleh Bernardus Raka, film drama coming-of-age ini mencoba memotret sisi lain dari perjalanan menjadi pro player. Tidak hanya soal kemenangan di panggung turnamen, tetapi juga tekanan mental, pengorbanan, dan keraguan dari lingkungan sekitar.
Inspirasi cerita film ini berasal dari perjalanan karier jungler Kairi Rayosdelsol, salah satu pemain bintang dari ONIC Esports, yang dikenal luas di skena kompetitif Mobile Legends: Bang Bang.
Menurut Bernardus Raka, kisah Kay sebenarnya adalah cerita yang sangat universal.
“Cerita Kay bagi saya adalah cerita yang universal. Banyak dari kita memiliki mimpi yang dianggap tidak konvensional, begitu juga dengan saya. Melalui film ini, saya ingin memberi suara dan apresiasi bagi mereka yang tetap berani berusaha serta setia pada jalur yang telah mereka pilih,” ujar Bernardus.
Film ini diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi anak muda yang terus berjuang membuktikan bahwa mimpi yang dianggap mustahil justru layak untuk diperjuangkan.
Karakter utama Kay diperankan oleh Bima Azriel, yang mencoba menghadirkan sisi emosional dari seorang pemain yang ingin membuktikan kemampuannya kepada dunia.
Menurut Bima, kisah Kay bukan hanya tentang skill bermain game, tetapi juga soal mentalitas dan rasa lapar untuk meraih mimpi.
“Saya merasa sangat terkoneksi dengan perjalanan Kay. Bagaimana ambisi dan rasa lapar untuk membuktikan diri benar-benar merefleksikan apa yang dialami banyak orang saat ini. Kay adalah pengingat bahwa rasa lapar akan mimpi itu valid, meski prosesnya sering kali menyakitkan,” kata Bima.
Lewat karakter ini, penonton diajak melihat bagaimana tekanan sosial, ekspektasi, dan kegagalan bisa menjadi ujian terbesar bagi seorang anak muda yang ingin mengejar karier di dunia esports.