Review Film Pelangi di Mars: Visualnya Epik, Robotnya Bikin Gemas!

- Pelangi di Mars menghadirkan kisah petualangan anak-anak berlatar Planet Mars dengan visual CGI ambisius dan konsep fiksi ilmiah yang jarang muncul di perfilman Indonesia.
- Film ini menonjol lewat karakter robot seperti Yoman, Sulil, dan Kimchi yang lucu serta mudah disukai, meski latar belakang mereka kurang tergali mendalam.
- Dengan humor ringan khas lokal dan pesan tentang harapan bagi Bumi, film ini menawarkan tontonan sci-fi ramah anak yang solid meski masih punya ruang pengembangan karakter.
Sebagai film fiksi ilmiah anak-anak produksi lokal, Pelangi di Mars bisa dibilang membawa sesuatu yang cukup segar untuk industri film Indonesia.
Film garapan sutradara Upie Guava ini mencoba menggabungkan petualangan luar angkasa dengan cerita yang tetap ramah anak, lengkap dengan visual CGI yang cukup ambisius untuk standar produksi lokal.
Karakter utamanya, Pelangi, diperkenalkan sebagai gadis berusia 12 tahun yang menjadi manusia pertama yang lahir di Planet Mars.
Ia tumbuh di koloni Mars ditemani robot-robot yang tidak hanya berfungsi sebagai penjaga, tapi juga sahabat yang setia. Dari sinilah kisah petualangan dimulai, saat Pelangi harus menjalani misi penting demi masa depan Bumi.
Secara konsep, film ini punya pondasi cerita yang cukup kuat. Petualangan mencari mineral langka bernama Zeolit Omega di Mars menjadi inti konflik yang membuat ceritanya terasa seperti kombinasi antara adventure, sci-fi, dan drama keluarga. Premis ini membuat Pelangi di Mars terasa berbeda dari kebanyakan film anak Indonesia.
Seperti apa review-nya? Simak selengkapnya di bawah ini. Perlu diingat, review ini mengandung spoiler, jadi pastikan kamu sudah siap sebelum lanjut membaca.
Sinopsis Pelangi di Mars (2026)

Tokoh utama kita adalah Pelangi, gadis berusia 12 tahun yang lahir dan besar di koloni manusia di Planet Mars. Ia hidup ditemani robot-robot yang menjadi penjaga sekaligus sahabatnya sehari-hari. Meski jauh dari Bumi, Pelangi tetap memiliki rasa penasaran yang besar terhadap dunia di luar koloni tempat ia tinggal.
Ketika Bumi menghadapi krisis air bersih yang semakin parah, harapan baru muncul dari penemuan mineral langka bernama Zeolit Omega. Mineral ini dipercaya mampu memurnikan air dan menjadi solusi bagi masalah global tersebut. Pelangi kemudian memulai perjalanan berbahaya untuk menemukan mineral tersebut di berbagai wilayah Mars yang misterius.
Dalam petualangannya, Pelangi ditemani beberapa robot malfunction yang memiliki karakter unik seperti Yoman, Sulil, dan Kimchi. Meski sering bertingkah kocak, mereka tetap setia membantu Pelangi menyelesaikan misinya. Namun perjalanan itu tidak mudah karena sebuah korporasi bernama Nerotek juga mengincar mineral tersebut demi mempertahankan kekuasaan mereka atas sumber air di Bumi.
| Producer | Dendi Reynando |
| Writer | Alim Sudio, Upie Guava |
| Age Rating | SU |
| Genre | Sci-Fi, Adventure, Family |
| Duration | 110 Minutes |
| Release Date | 18-03-2026 |
| Theme | Mars, Robot, Adventure |
| Production House | Mahakarya Pictures |
| Where to Watch | Cinema XXI Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Livy Renata, Myesha Lin Adeeva, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Bimo Kusumo Yudo |
| Cast | Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Livy Renata, Myesha Lin Adeeva, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Bimo Kusumo Yudo |
Trailer Pelangi di Mars (2026)
Review Pelangi di Mars

Visual Mars yang Ambisius untuk Film Anak Indonesia
Hal pertama yang langsung terasa dari film ini adalah visualnya. Untuk ukuran film anak Indonesia, Pelangi di Mars tampil cukup ambisius dengan penggunaan CGI yang terbilang rapi. Lanskap Planet Mars digambarkan cukup megah dengan warna merah khas yang dipadukan dengan desain koloni futuristik.
Menurut penulis, usaha produksi selama lima tahun yang dilakukan tim kreatif memang terlihat di layar. Motion capture dan voice over juga terasa cukup menyatu dengan karakter robot yang muncul sepanjang film. Hasilnya memang belum sempurna, tapi sudah menunjukkan perkembangan yang menarik untuk film fiksi ilmiah lokal.
Robot yang Fun dan Mudah Disukai
Salah satu elemen paling menyenangkan dalam film ini adalah karakter robotnya. Yoman, Sulil, dan terutama Kimchi tampil dengan kepribadian yang berbeda-beda sehingga membuat perjalanan Pelangi terasa lebih hidup. Kimchi bahkan menjadi karakter yang paling mencuri perhatian berkat visualnya yang pink dan sifatnya yang sangat kekinian.
Meski begitu, penulis merasa latar belakang beberapa robot ini kurang digali lebih dalam. Saat pertama kali muncul, hubungan mereka dengan Pelangi terasa agak cepat dibangun tanpa penjelasan yang terlalu kuat. Namun seiring cerita berjalan, mereka tetap memiliki peran penting dalam membantu Pelangi menghadapi berbagai rintangan.
Komedi Ringan yang Tetap Terasa Lokal
Dari sisi komedi, film ini cukup berhasil menghadirkan humor yang ringan dan mudah dipahami anak-anak. Peran Ardit Erwanda sebagai comedy consultant terasa cukup membantu menjaga ritme humor film ini. Banyak dialog lucu yang terasa khas Indonesia meskipun latar ceritanya berada di Planet Mars.
Beberapa celetukan dari para robot juga terasa spontan dan menghibur. Humor yang digunakan tidak terlalu dipaksakan dan masih terasa natural di dalam cerita. Hal ini membuat film tetap terasa santai tanpa mengganggu alur petualangan yang sedang berlangsung.
Cerita Petualangan yang Solid Meski Ada Catatan
Secara keseluruhan, Pelangi di Mars memiliki cerita yang cukup solid dari awal hingga akhir. Konflik mengenai perebutan mineral Zeolit Omega memberikan stakes yang jelas bagi perjalanan Pelangi. Selain itu, pesan tentang harapan dan masa depan Bumi juga terasa cukup kuat dalam cerita.
Namun ada beberapa bagian yang menurut penulis masih bisa dikembangkan lebih jauh. Beberapa karakter pendukung terasa kurang memiliki kedalaman cerita, terutama di awal pertemuan mereka dengan Pelangi. Jika latar belakang mereka dibuat lebih kuat, emosi cerita kemungkinan bisa terasa lebih dalam.
Terlepas dari beberapa catatan tadi, Pelangi di Mars tetap menjadi tontonan yang menyenangkan. Film ini berhasil menghadirkan petualangan sci-fi yang ramah anak dengan visual yang cukup ambisius untuk produksi lokal. Kehadiran karakter robot yang lucu juga membuat film terasa ringan dan mudah dinikmati.
Sebagai film fiksi ilmiah untuk anak-anak Indonesia, Pelangi di Mars sudah memberikan fondasi yang cukup menjanjikan. Jika ke depan kualitas cerita dan karakter bisa semakin diperdalam, bukan tidak mungkin genre sci-fi anak akan semakin berkembang di industri film Indonesia.

















