Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
7 Alasan Harga Kartu Pokemon Bisa Mahal
Kartu Pokemon Indonesia Kobaran Biru. Dok. AKG Entertainment
  • Demam kartu Pokemon melonjak sejak masa lockdown 2020, saat nostalgia masa kecil membuat banyak orang dewasa kembali mengoleksi dan memburu kartu langka.
  • Influencer seperti Logan Paul serta tren investasi menjadikan kartu Pokemon simbol status dan aset bernilai tinggi, bukan sekadar hobi anak-anak.
  • Keterbatasan pasokan akibat produk tersegel, efek FOMO, dan dorongan nostalgia milenial membuat harga kartu Pokemon terus meroket di pasar kolektor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Fenomena melonjaknya harga kartu Pokemon di pasar kolektor, dipicu oleh meningkatnya permintaan dan perilaku spekulatif terhadap produk-produk edisi terbatas.
  • Who?
    Kolektor kartu Pokemon, influencer seperti Logan Paul, serta pembeli dari kalangan milenial yang tergerak oleh nostalgia masa kecil.
  • Where?
    Perdagangan dan aktivitas pembelian terjadi secara global, terutama melalui toko resmi Pokemon Center dan berbagai platform jual beli daring.
  • When?
    Kenaikan minat dan harga dimulai sejak Maret 2020 saat periode lockdown global, dan terus berlanjut hingga beberapa tahun terakhir.
  • Why?
    Kombinasi faktor nostalgia, pengaruh media sosial, kelangkaan produk tersegel, serta dorongan investasi membuat harga kartu meningkat tajam.
  • How?
    Pembeli memborong produk dalam jumlah besar, menyimpan kotak tanpa dibuka untuk menjaga nilai jual, sehingga pasokan menurun dan harga naik signifikan di pasar sekunder.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang sekarang suka banget sama kartu Pokemon. Dulu cuma mainan, tapi sekarang harganya bisa mahal sekali. Waktu semua orang di rumah karena corona, banyak yang beli lagi buat ingat masa kecil. Ada juga orang terkenal kayak Logan Paul yang buka kartu di video dan bikin orang lain ikut beli. Sekarang banyak yang simpan kartunya rapat-rapat biar nanti bisa dijual mahal. Jadi toko cepat habis dan anak-anak susah beli buat main. Orang dewasa yang dulu suka Pokemon waktu kecil sekarang beli lagi karena kangen masa itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah terpikir, bagaimana selembar karton kecil bergambar naga oranye atau kucing ungu bisa lebih mahal daripada cicilan motor bulanan Anda?

Jika kita menganggap kartu Pokemon hanya sekadar mainan anak-anak, mungkin kita perlu duduk sebentar, ambil napas dalam, dan bersiaplah untuk menerima sisi lain dunia kolektor ini.

Pasar kartu Pokemon saat ini sedang mengalami kegilaan yang tak terbendung. Produk di Pokemon Center ludes dalam hitungan menit, dan orang-orang rela melakukan hal-hal ekstrem demi mendapatkan satu kotak kartu.

Berdasarkan fenomena yang terjadi, berikut adalah 7 penyebab mengapa kartu-kartu Pokemon ini harganya bisa selangit.

In Article GGWP_.png


1. Lockdown

ilustrasi kartu Pokemon (unsplash.com/Mick Haupt)

Semua kegilaan ini memiliki satu titik awal yaitu Maret 2020. Saat dunia sedang lockdown dan kita semua terjebak di rumah, banyak orang mulai mencari pelarian.

Alih-alih belajar bikin kopi dalgona atau berkebun di teras sendiri, orang dewasa (khususnya milenial) malah teringat masa kecil mereka. Nostalgia adalah obat yang sangat kuat, dan saat itu, semua orang ingin membelinya kembali dalam bentuk kartu.

2. Influencer

ilustrasi koleksi kartu Pokemon (pexels.com/Erik Mclean)

Lalu muncullah Logan Paul. Dia membuka kotak kartu first edition base set secara live di depan jutaan pasang mata. Tiba-tiba, kartu Pokemon bukan lagi barang yang tersimpan di gudang bawah tanah, melainkan simbol status.

Logan Paul membuktikan bahwa cara tercepat membuang uang jutaan dolar dengan keren adalah melalui kertas bergambar, bukan saham perusahaan teknologi.

3. Evolving Skies

Ilustrasi kartu Pokemon (unsplash.com/Thimo Pedersen)

Munculnya set seperti Evolving Skies mengubah hobi menjadi bisnis. Orang-orang menyadari bahwa membeli kotak kartu seharga $130 dan melihat harganya naik menjadi $200 dalam setahun adalah investasi yang lebih baik daripada bunga bank atau bahkan kripto yang sedang terjun bebas.

Tiba-tiba, semua orang merasa jadi pialang saham Wall Street hanya dengan modal melihat gambar Umbreon.

4. Sealed Product

Kartu Pokemon Ikatan Takdir (Foto Dimas Ramadhan/Duniaku.com)

Lalu mulai muncul kebiasaan yang menjadi ironi. Orang-orang mulai membeli kartu untuk tidak dibuka. Dulu, kesenangan utama adalah merobek bungkusnya dan melihat isinya.

Sekarang? Merobek bungkus dianggap sebagai dosa besar secara finansial. Karena banyak orang menyimpan kotak dalam keadaan tersegel (sealed), jumlah kartu yang benar-benar beredar di pasar otomatis berkurang. Pasokan rendah, permintaan tinggi, harga meroket.

5. FOMO

Foto kartu Pokemon. (Unsplash.com/Thimo Pedersen)

Ketakutan akan ketinggalan momen atau "takut tidak kaya" membuat orang membeli produk secara masif. Begitu ada rilis baru, orang-orang langsung memborong 5, 10, hingga 20 kotak sekaligus.

Mereka takut jika tidak membeli sekarang, mereka akan melewatkan "The Next Big Thing". Hasilnya? Rak toko kosong, dan harga di pasar gelap melonjak sebelum barangnya sempat sampai ke tangan anak-anak yang sebenarnya ingin bermain.

6. Sengaja Langka

momen apes yang berhubungan dengan kartu Pokemon (reddit.com/user/RattyJones)

Ketika semua orang menyimpan kotak mereka di bawah tempat tidur sebagai aset masa depan, tidak ada kartu satuan (singles) baru yang masuk ke pasar.

Jika tidak ada yang membuka pak, maka kartu langka seperti Rayquaza atau Umbreon "Moonbreon" menjadi sangat sulit dicari.

Ini seperti memiliki cokelat yang sangat enak tapi Anda lebih memilih mati kelaparan sambil memeluk cokelat itu agar harganya naik di masa depan. Logika yang sayangnya berbalut keserakahan.

7. Memori Milenial

Salah satu contoh kartu Pokemon. Sumber: YouTube.com/PrimetimePokemon

Siapa target utama investasi kartu Pokemon? Kaum milenial. Mereka adalah orang-orang yang dulu menangis karena kartu Charizard-nya ditukar paksa oleh teman sekolah dengan kartu energi api.

Sekarang, anak-anak kecil itu sudah tumbuh dewasa, punya pekerjaan tetap, dan punya sisa gaji yang siap dibelanjakan demi membalas dendam masa kecil. Nostalgia adalah candu yang sangat mahal, dan milenial adalah pembeli setianya.

Editorial Team