Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
Sesi pembuka hari kedua bertajuk “Food Sovereignty for Economic Growth”. (Dok. IDN)
Sesi pembuka hari kedua bertajuk “Food Sovereignty for Economic Growth”. (Dok. IDN)

Intinya sih...

  • Philip Mulyana dan Cinta Laura Kiehl berbagi strategi membangun kebebasan finansial melalui pengelolaan keuangan yang bijak.

  • Prof. Yassierli, Rieke Diah Pitaloka, dan Willy Saelan menyoroti pentingnya menciptakan lapangan kerja inklusif yang mendukung keberlanjutan.

  • Najwa Shihab menekankan pentingnya penegakan hukum yang transparan dan konsisten.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Hari kedua Indonesia Summit 2025 kembali menghadirkan berbagai diskusi inspiratif lintas sektor di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta.

Dengan menghadirkan para pemimpin pemerintahan, pakar industri, kreator, dan talenta muda, sesi-sesi ini menyoroti berbagai isu strategis mulai dari kedaulatan pangan, literasi finansial, hingga revolusi budaya pop.

Sesi pembuka hari kedua bertajuk “Food Sovereignty for Economic Growth” menghadirkan Zulkifli Hasan, Santhi Serad, dan Normansyah Hidayat Syahruddin. Mereka menekankan pentingnya kemandirian pangan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Kebutuhan pangan kita masih sangat bergantung pada impor, mulai dari gandum untuk roti dan mie hingga 13 juta ton per tahun, kedelai 3 juta ton, dan gula sekitar 6 juta ton," kata Zulkifli Hasan.

"Presiden Prabowo telah mendorong program swasembada pangan. Mewujudkannya memang tidak mudah, tetapi pemerintah berkomitmen memulai dari pemberdayaan masyarakat dan generasi muda agar lebih produktif, tanpa hanya bergantung pada bantuan sosial pangan,” sambungnya.

Simak momen seru lainnya dari hari kedua Indonesia Summit di bawah ini.

1. Kunci kebebasan finansial ala Cinta Laura

Sesi “Spend Wisely, Live Fully: The Frugal Formula for Financial Freedom”, Philip Mulyana dan Cinta Laura Kiehl. (Dok. IDN)

Dalam sesi “Spend Wisely, Live Fully: The Frugal Formula for Financial Freedom”, Philip Mulyana dan Cinta Laura Kiehl berbagi strategi membangun kebebasan finansial melalui pengelolaan keuangan yang bijak.

“Kesuksesan bukan diukur dari barang branded, rumah mewah, atau mobil sport seperti yang sering terlihat di media sosial. Standar semu itu justru bisa memicu kecemasan," ungkap Cinta Laura.

"Bagi saya, sukses sejati adalah ketika kita bebas dari kegelisahan, punya cukup waktu bersama keluarga dan teman, serta bisa melakukan hobi yang kita cintai. Kualitas hidup jauh lebih berarti dibanding sekadar simbol materi,” sambungnya.

2. Tantangan di sektor lapangan pekerjaan

Panel “Unlocking Job Opportunities: Strategies for Inclusive and Sustainable Employment in Indonesia”. (Dok. IDN)

Panel “Unlocking Job Opportunities: Strategies for Inclusive and Sustainable Employment in Indonesia” menghadirkan Prof. Yassierli, Rieke Diah Pitaloka, dan Willy Saelan.

Diskusi ini menyoroti pentingnya menciptakan lapangan kerja inklusif yang mendukung keberlanjutan.

“Gen Z jangan berkecil hati. Sesulit apa pun hidup, selalu ada peluang selama kita mau berjuang. Jangan terburu-buru menghakimi masa depan, karena harapan akan selalu ada bagi mereka yang terus berusaha,” ujar Rieke Diah Pitaloka.

3. Kekuatan anak muda Indonesia Timur

Sesi “Empowering Young Talent in Eastern Indonesia” bersama Putri Wulandari Hamid. (Dok. IDN)

Isu talenta daerah menjadi fokus dalam sesi “Empowering Young Talent in Eastern Indonesia” bersama Putri Wulandari Hamid.

Ia menekankan bagaimana anak muda di wilayah timur Indonesia memiliki potensi besar yang perlu didukung oleh akses pendidikan, pelatihan, dan infrastruktur.

“Empowering young talent in Eastern Indonesia adalah langkah nyata untuk melahirkan agen-agen perubahan dari berbagai daerah," kata Putri Wulandari Hamid.

"Anak muda di Timur Indonesia memiliki potensi besar yang, bila diberdayakan dengan tepat, akan menjadi motor penggerak pembangunan nasional,” sambungnya.

4. Oki Rengga sampaikan realita sosial dengan jenaka

Stand-Up Comedy Special Show oleh Oki Rengga. (Dok. IDN)

Suasana kembali cair dengan Stand-Up Comedy Special Show oleh Oki Rengga.

Sang stand-up comedian berhasil membawa tawa sekaligus refleksi tentang realitas sosial dan ekonomi Indonesia.

5. Viral di medsos, bagus atau buruk?

Sesi “Viral or Valuable? Balancing Trends with Meaningful Content” menghadirkan Keanu dan Guff Perdana. (Dok. IDN)

Di panggung Talent Trifecta by ICE, sesi “Viral or Valuable? Balancing Trends with Meaningful Content” menghadirkan Keanu dan Guff Perdana.

Mereka menekankan pentingnya konten yang bukan hanya viral, tapi juga relevan dan berdampak. Keanu menyampaikan, Insecurity adalah bagian dari setiap orang, bukan hanya dialami oleh content creator atau influencer.

"Rasa tidak percaya diri itu manusiawi, tapi jangan sampai membuat kita berhenti berkarya. Kalau memang ingin mulai berkreasi, langkah pertama adalah berdamai dengan diri sendiri," kata Keanu.

"Dengan menerima kekurangan sekaligus menghargai kelebihan, kita bisa lebih bebas mengekspresikan diri dan melahirkan karya yang autentik,” ujarnya

6. Membuka potensi Indonesia

Sesi “Empowering Young Talent in Eastern Indonesia” bersama Putri Wulandari Hamid. (Dok. IDN)

Panel “Human Capital Development: Unlocking Indonesia’s Economic Potential” menghadirkan Prof. Stella Christie, Lisa Qonita, dan Caroline Riady.

Diskusi ini menyoroti pengembangan SDM sebagai kunci pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Investasi terbaik bangsa ini ada pada manusianya. Memberikan akses pendidikan berkualitas dan pelatihan relevan adalah cara memastikan kita siap menghadapi era kompetisi global,” papar Stella Christie.

7. Kunci kesuksesan pebisnis wanita

Sesi “Beyond the Balance Sheet: Redefining Success for the Digital Womenpreneur”. (Dok. IDN)

Di sesi “Beyond the Balance Sheet: Redefining Success for the Digital Womenpreneur”, Cherly Juno, Tyna Dwi Jayanti dan Irflania Ramadhani Lubis berbagi pengalaman membangun bisnis digital yang berorientasi pada dampak.

“Jangan berpikir terlalu jauh. Kita bisa mulai dari passion yang kita punya. Mulailah dari hal yang kita sukai, tekuni, pelajari, dan jalani dengan konsistensi,” kata Tyna Dwi Jayanti.

8. Najwa Shihab kritisi larangan live saat demo

Sesi “Building Trust in Justice: Strategies for Consistent Law Enforcement in Indonesia’s 8th Decade”. (Dok. IDN)

Sesi “Building Trust in Justice: Strategies for Consistent Law Enforcement in Indonesia’s 8th Decade” menghadirkan Najwa Shihab dan Setyo Budiyanto.

Najwa Shihab menekankan pentingnya penegakan hukum yang transparan dan konsisten. Ia spesifik mengkritik larangan live di tengah aksi demonstrasi.

“Merekam dan menyiarkan adalah cara paling ampuh untuk memastikan kekuasaan tidak disalahgunakan. Transparansi adalah senjata warga agar tidak ada ruang bagi kesewenang-wenangan,” tegas Najwa.

9. Memahami obsesi fandom

Sesi “Fandom Revolution: How Millennials & Gen Z Are Redefining Celebrity Culture”. (Dok. IDN)

Hari kedua ditutup dengan sesi “Fandom Revolution: How Millennials & Gen Z Are Redefining Celebrity Culture” bersama Ummi Quarry dan Niko Al-Hakim.

Mereka membahas bagaimana budaya fandom kini menjadi kekuatan ekonomi baru.

“Kejar mimpi dengan semangat dan kegigihan. Saat kita pakai energi positif, semesta akan ikut mendukung, dan apa yang kita mau bisa tercapai,” ungkap Ummi Quarry.

Editorial Team