Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
Kelam dan Kelabu, Sisi Gelap Esports yang Tak Terekspos ke Publik

Saat ini esports menjadi salah satu industri yang cukup gemerlap terutama bagi anak muda. Hadiah menarik, popularitas, dan kekayaan seperti menjadi sebuah janji jika seseorang bisa sukses berkarier di industri ini.

Belum banyak yang mengetahui jika esports sama seperti industri lainnya di mana ada sisi gelap yang menyelimutinya. Hanya saja, untuk sekarang ini, masih belum banyak terungkap sisi gelap yang hadir di dunia esports.

GGWP.ID tertarik untuk membahas mengenai sisi kelabu dari industri yang sedang menanjak di Indonesia ini, Mari kita ulas satu per satu beberapa sisi gelap esports yang ada di Indonesia!

Hadiah yang Tidak Dibayarkan

Baru-baru ini pengguna Reddit NextmetaGna menuliskan sesuati di komunitas Reddit apa yang terjadi terhadap TNC Predator di acara esports China TOP 2017. TNC, yang muncul sebagai juara untuk turnamen itu mengklaim bahwa mereka belum menerima hadiah yang diperoleh dengan susah payah dari dua tahun yang lalu.

Namun sayangnya, tak ada pihak yang secara langsung bertanggung jawab untuk mengatasi masalah yang satu ini, selain itu ada tim bernama Digital Chaos yang juga belum dibayar di turnamen itu.

Tentu saja hadiah yang tidak dibayar setelah turnamen usai ini juga menjadi salah satu sisi gelap di mana untuk menyambut sebuah turnamen, atlet esports biasanya berlatih dan banyak berkorban demi meraih hadiah serta kemenangan.

Perusahaan dan organisasi dalam industri esports yang dibangun dari skala kecil di mana biasanya mereka terdiri dari orang-orang sukarelawan yang punya semangat dan keyakinan bisa sukses di industri ini. Beberapa orang statusnya sudah berubah dari mulai sukarelawan hingga menjadi sosok yang punya pengaruh untuk organisasi.

Namun, terkadang pembayaran yang mereka terima tidak benar-benar mencerminkan posisi tersebut, Salah satu kasusnya adalah di tim profesional esports, HappyFeet.

Dalam sebuah narasi yang dijelaskan oleh Anthony, seorang mantan karyawan Mineski, anggota tim HappyFeet hanya mendapatkan gaji sebesar US$150 per bulan atau setara dengan Rp 2 juta. Tentu saja Ini di bawah upah minimum di Filipina, dan mungkin jauh lebih rendah daripada gaji para atlet esports di negara lain.

Pelanggaran Kontrak Kerja

 

Pelanggaran kontrak kerja terjadi di mana-mana bahkan di industri profesional seperti sepak bola sekalipun. Tapi sialnya, pelanggaran kontrak kerja ini juga sangat sering terjadi di kancah esports. Akhir tahun 2018 lalu, masalah muncul datang dari tim League of Legends Eropa yaitu G2 Esports yang telah dituduh melakukan pelanggaran soal kontrak.

Luka ‘Perkz’ Perkovic pemain dari G2 Esports diindikasikan melakukan tindakan poaching terhadap pemain dari tim lain. Selain itu, Riot Games juga memberikan hukuman terhadap kasus ini yang ternyata juga melibatkan CLG dan Team Dragon Knights, kedua tim tersebut harus membayar denda sebesar USD 10.000.

Editorial Team