Perubahan format kompetisi Free Fire pada 2027 memunculkan beragam respons dari pelatih tim esports Indonesia. Keputusan untuk menghapus turnamen tingkat Asia Tenggara (SEA) dan mengembalikan persaingan ke liga masing-masing negara dinilai membawa peluang sekaligus tantangan baru bagi ekosistem kompetitif Free Fire.
Dalam format mendatang, FFWS Indonesia akan menjadi panggung tertinggi bagi tim-tim Tanah Air. Mereka harus bersaing di liga domestik untuk memperebutkan dua tiket menuju turnamen global. Artinya, kesempatan tampil di level internasional akan ditentukan melalui persaingan yang lebih terpusat di masing-masing wilayah.
Kebijakan ini mendapat tanggapan dari tiga pelatih tim Indonesia yang sebelumnya berkompetisi di level SEA, yakni ChrisJo dari Bigetron by Vitality, ADY dari RRQ Kazu, dan AFM dari ONIC.
Ketiganya memiliki sudut pandang berbeda, mulai dari tantangan menghadapi persaingan domestik, kekecewaan atas perubahan regulasi, hingga dampaknya terhadap perkembangan komunitas Free Fire.
Table of Content
