Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
Install

Kisah di Balik Perekrutan POOM, Juara EWC yang Kini Berseragam ONIC

Kisah di Balik Perekrutan POOM, Juara EWC yang Kini Berseragam ONIC
POOM ONIC (Sumber: Garena Free Fire Indonesia)
  • ONIC merekrut POOM, mantan Onemore Team Falcons dan juara EWC Free Fire 2024, setelah evaluasi besar akibat performa buruk di FFWS SEA 2026 Spring.
  • Kebutuhan kapten berstandar SEA dengan waktu persiapan singkat membuat ONIC memilih POOM; proses transfer dipercepat setelah ia gagal lolos FFNS Thailand dan cocok dengan Geday.
  • Adaptasi bahasa masih berjalan dengan dukungan translator dan les Bahasa Indonesia. ONIC finis kesembilan Week 1 FFWS SEA 2026 Fall dengan 146 poin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kedatangan Rattapoom Sunthalunai atau POOM ke ONIC menjadi salah satu transfer paling menarik di skena kompetitif Free Fire Asia Tenggara.

Untuk pertama kalinya, tim asal Indonesia tersebut membawa pemain Thailand ke dalam roster kompetitifnya, sebuah keputusan yang tidak hanya berkaitan dengan kualitas individu, tetapi juga strategi untuk membangun kembali kekuatan ONIC di FFWS SEA 2026 Fall.

POOM bukan pemain sembarangan. Sebelum bergabung dengan ONIC, ia dikenal dengan nickname Onemore ketika memperkuat Team Falcons.

Bersama tim tersebut, ia telah merasakan sejumlah pencapaian besar di level internasional, termasuk menjadi juara Esports World Cup (EWC) Free Fire 2024, FFWS SEA 2024 Spring, hingga FFWS SEA 2025 Fall.

Rekam jejak tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perekrutan POOM menarik perhatian.

Namun, di balik transfer tersebut ternyata terdapat proses yang cukup panjang. ONIC tidak sekadar mencari pemain dengan nama besar, tetapi membutuhkan sosok yang mampu memenuhi kebutuhan tim dalam waktu yang relatif singkat.

Pelatih ONIC, Ahmad Fadly Masturoh atau Coach AFM, secara eksklusif kepada GGWP mengungkap cerita di balik proses perekrutan POOM, mulai dari evaluasi roster, pencarian kapten, komunikasi awal hingga akhirnya pemain asal Thailand tersebut resmi bergabung.

  1. Berawal dari Evaluasi Besar ONIC

    Keputusan mendatangkan POOM tidak bisa dilepaskan dari hasil ONIC di FFWS SEA 2026 Spring. Performa yang dianggap jauh dari harapan membuat manajemen melakukan evaluasi besar-besaran terhadap roster dan arah permainan tim.

    AFM menjelaskan bahwa evaluasi tersebut mencakup sejumlah pemain, termasuk Adam dan Xyro. Salah satu persoalan yang kemudian muncul adalah kebutuhan terhadap sosok kapten dengan pengalaman dan standar kompetisi tingkat Asia Tenggara.

    “Kebetulan karena kemarin hasil ONIC itu jelek banget di FFWS SEA 2026 Spring, jadi kita dievaluasi besar-besaran sama manajemen. Kita coba evaluasi dari segi roster kita, baik itu Adam, Xyro, dan lain sebagainya,” cerita AFM.

    Menurut AFM, kebutuhan tersebut menjadi semakin mendesak karena waktu persiapan menuju FFWS SEA 2026 Fall sangat terbatas. Jika ONIC harus membangun seorang kapten dari level komunitas hingga mampu memimpin di kompetisi SEA, prosesnya tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

    Sementara itu, turnamen sudah berada di depan mata.

    “Di situ kita coba trade record, kalau misalkan Xyro-nya kita take out, kan Xyro Captain. Sementara kita ada di level SEA, yang mana kita butuh Captain-nya itu harus standarnya SEA, nggak mungkin standar komunitas yang harus kita build lagi, sementara turnamennya cuma satu bulan,” tambahnya.

    Kondisi tersebut membuat ONIC mulai menyusun sejumlah nama kandidat yang dianggap sesuai dengan kebutuhan tim.

    Dua nama kemudian masuk dalam daftar utama AFM, yaitu Geday dan POOM.

  2. POOM Sudah Masuk Radar AFM Sejak Lama

    Menariknya, perekrutan POOM sebenarnya bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba. AFM mengaku sudah memantau dan melakukan scouting terhadap pemain tersebut sejak masih menjadi bagian dari EVOS.

    Bahkan, AFM sebelumnya pernah mencoba membawa POOM ke EVOS. Namun, rencana tersebut terkendala satu persoalan besar, yaitu bahasa.

    “Waktu saya di EVOS, saya juga sudah coba buat scouting si POOM buat masuk ke EVOS waktu itu. Nah, tapi waktu itu terkendalanya bahasa banget,” kenangnya.

    Pengalaman tersebut ternyata tidak membuat AFM mencoret nama POOM dari daftar pemain potensial. Ketika ONIC melakukan evaluasi roster, nama POOM kembali muncul.

    AFM kemudian menghubungi POOM pada awal proses pencarian roster baru. Namun, respons pertama POOM belum langsung mengarah pada kesepakatan.

    Saat itu, POOM masih ingin fokus menjalani FFNS Thailand. Ia bahkan sudah menyampaikan kepada AFM bahwa dirinya tidak dapat bergabung dengan ONIC jika berhasil lolos dari kompetisi tersebut.

    Situasi berubah setelah POOM dan timnya gagal melanjutkan perjalanan di FFNS Thailand.

  3. Satu DM Mengubah Arah Perekrutan

    Setelah tidak lolos dari FFNS Thailand, POOM justru kembali menghubungi AFM. Dari sinilah proses perekrutan mulai bergerak lebih cepat.

    “Nah kebetulan, mungkin Alhamdulillah juga, dia hashtag 2 di FFNS-nya. Jadi waktu itu dia nge-DM gue lagi, bang aku mau join ke ONIC katanya, karena dia sudah nggak lolos di FFNS,” cerita mantan pelatih EVOS tersebut.

    AFM kemudian kembali berkomunikasi dengan POOM untuk membicarakan visi dan misi kedua pihak. Setelah menemukan kesamaan pandangan, pembicaraan mulai diarahkan ke tahap yang lebih serius.

    ONIC kemudian masuk ke tahap pembahasan kontrak, kebutuhan pemain, hingga berbagai aspek teknis yang harus dipersiapkan untuk membawa pemain Thailand ke Indonesia.

    POOM juga menjalani trial bersama calon rekan-rekan setimnya. Menariknya, proses tersebut melibatkan pemain-pemain yang pada akhirnya tidak lagi menjadi bagian dari roster ONIC saat ini.

    “Dia juga coba trial bareng anak-anak, baik sama Adam sama Xyro juga waktu itu dia trial. Dan hasil trial-nya, roster yang sekarang, tanpa Adam sama Xyro,” ucapnya.

    Dari proses trial tersebut, ONIC mendapatkan gambaran mengenai bagaimana POOM bisa beradaptasi dengan gaya bermain tim.

    Salah satu faktor yang mempercepat proses tersebut adalah keberadaan Geday. Keduanya sudah memiliki hubungan dan chemistry sejak sebelumnya, ketika Geday masih bermain untuk EVOS.

    “Dia juga nyaman, karena menurutnya, dia sama Geday lebih cocok banget, karena dulu punya chemistry waktu Geday masih di EVOS. Jadi rekrutmennya cukup cepat, karena dia sama Geday sudah akrab juga,” tambahnya.

    Dengan chemistry yang sudah terbentuk sebelumnya, ONIC tidak harus memulai semuanya dari nol.

  4. Bahasa Menjadi Tantangan, ONIC Siapkan Solusi

    Meski kemampuan bermain POOM tidak diragukan, satu tantangan yang harus segera diatasi adalah komunikasi.

    Membawa pemain dari negara berbeda tentu membutuhkan penyesuaian, terlebih komunikasi menjadi elemen yang sangat penting dalam permainan Free Fire kompetitif. Kesalahan kecil dalam memahami instruksi bisa berdampak besar terhadap pengambilan keputusan sebuah tim.

    ONIC pun menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

    Menurut AFM, POOM sebenarnya sudah memiliki modal penting karena cukup sering bermain bersama pemain-pemain dari berbagai negara. Karena itu, komunikasi dalam game bukan sepenuhnya sesuatu yang asing baginya.

    “Si POOM ini bukan orang baru di dunia scene Free Fire. Dia sudah sering mabar juga sama anak-anak yang lain. Jadi dia kalau comms secara in-game, dia sudah hafal banget,” ujarnya.

    Namun, ONIC tetap memberikan dukungan tambahan. Salah satunya dengan menyediakan guru atau translator yang membantu POOM mempelajari bahasa Indonesia.

    Menariknya, upaya adaptasi juga datang langsung dari sang pemain.

    Ketika harus kembali ke Thailand selama sekitar 10 hari untuk mengurus visa, POOM tidak hanya menunggu proses administrasi selesai. Ia secara mandiri menyewa guru di Thailand untuk membantunya belajar bahasa dan memahami komunikasi sehari-hari.

    Inisiatif tersebut menjadi salah satu hal yang membuat AFM semakin yakin dengan keputusan membawa POOM ke Indonesia.

    Selain belajar bahasa, POOM juga menyiapkan perangkat translator yang dapat digunakan untuk membantu komunikasi bersama rekan setim.

    “Jadi dia udah inisiatif buat beli phone translator gitu, tinggal pencet-pencet doang. Jadi dia bisa langsung komunikasi via itu,” ujar AFM.

    Bagi AFM, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa ONIC tidak sekadar mendatangkan pemain berdasarkan prestasi. Mereka juga mempertimbangkan karakter dan kemauan pemain untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

  5. Bukan Sekadar Mendatangkan Bintang Thailand

    Keputusan ONIC merekrut POOM pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar transfer pemain asing. Ada kebutuhan kompetitif yang harus dijawab, ada komunikasi yang harus dibangun, serta ada kultur tim yang perlu disatukan.

    AFM menilai POOM memiliki kualitas dan kecakapan yang membuatnya layak mendapatkan kesempatan untuk bermain di Indonesia.

    “Jadi memang nggak sembarangan anak yang kita bawa ke Indonesia. Yang notabene-nya, yang kayak dari Thailand itu kan notabene-nya dia nggak banyak yang bisa bahasa Inggris. Tapi spesialnya buat POOM, dia ibaratnya anak spesial dari Thailand yang bisa kita bawa ke Indonesia dengan kualitas dan kecakapan yang mumpuni buat ada di Indonesia,” kata AFM.

    Bagi POOM sendiri, kesempatan bermain bersama ONIC bukan hanya tentang bergabung dengan organisasi baru. Ia melihat perpindahan tersebut sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru di lingkungan kompetitif yang berbeda.

    “Tujuan saya bergabung dengan tim ini adalah untuk mendapatkan pengalaman. Saya juga ingin berterima kasih karena sudah memberikan kesempatan untuk bisa bergabung,” ujar POOM.

  6. Adaptasi POOM Masih Menjadi Proses

    Meski proses perekrutannya berjalan relatif cepat dan ONIC sudah menyiapkan berbagai kebutuhan adaptasi, performa tim pada pekan pertama FFWS SEA 2026 Fall menunjukkan bahwa perjalanan mereka masih panjang.

    ONIC mengakhiri Week 1 di posisi kesembilan dengan koleksi 146 poin. Hasil tersebut memang masih menempatkan mereka di zona 12 besar, tetapi belum cukup untuk membuat posisi mereka aman dalam persaingan menuju Grand Finals.

    Kehadiran POOM juga tidak serta-merta membuat ONIC langsung kembali menjadi kekuatan dominan. Sang Landak Kuning masih membutuhkan waktu untuk menyatukan gaya bermain, komunikasi, serta chemistry roster baru.

    Namun, justru di sinilah menariknya perjalanan POOM bersama ONIC. Transfer tersebut bukan proyek instan untuk mendapatkan hasil dalam satu malam, melainkan sebuah upaya membangun kembali tim setelah periode sulit.

    Pekan-pekan berikutnya akan menjadi ujian sebenarnya. Apakah pengalaman POOM sebagai juara EWC Free Fire 2024, FFWS SEA 2024 Spring, dan FFWS SEA 2025 Fall mampu membantu ONIC kembali ke papan atas? Atau justru proses adaptasi lintas negara membutuhkan waktu lebih panjang?

    Satu hal yang jelas, ONIC telah mengambil langkah berani. Untuk pertama kalinya, pemain Thailand menjadi bagian dari roster kompetitif mereka. Kini, tantangannya bukan lagi bagaimana mendatangkan POOM, melainkan bagaimana mengubah pengalaman dan kualitas sang pemain menjadi kekuatan baru bagi ONIC di panggung Free Fire Asia Tenggara.

    Top up game favoritmu sekarang lebih mudah dan hemat lewat GGWP Top Up. Mulai dari Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, sampai game-game lain favoritmu. Buktiin murahnya top up di GGWP Top Up.

    FAQ

    Siapa POOM yang bergabung dengan ONIC Free Fire?

    POOM atau Rattapoom Sunthalunai adalah pemain Free Fire asal Thailand yang sebelumnya dikenal dengan nickname Onemore saat memperkuat Team Falcons. Ia memiliki sejumlah gelar bergengsi, termasuk EWC Free Fire 2024, FFWS SEA 2024 Spring, dan FFWS SEA 2025 Fall.

    Mengapa ONIC merekrut POOM?

    ONIC merekrut POOM setelah melakukan evaluasi besar terhadap roster menyusul hasil kurang memuaskan di FFWS SEA 2026 Spring. Pengalaman POOM di level Asia Tenggara menjadi salah satu pertimbangan utama ONIC.

    Bagaimana proses POOM bisa bergabung dengan ONIC?

    AFM lebih dulu menghubungi POOM saat pemain tersebut masih fokus mengikuti FFNS Thailand. Setelah POOM tidak lolos dari kompetisi tersebut, ia kembali menghubungi AFM dan menyatakan ketertarikannya bergabung dengan ONIC. Setelah pembahasan visi-misi dan menjalani trial, proses perekrutan dilanjutkan ke tahap kontrak.

    Bagaimana ONIC membantu POOM beradaptasi di Indonesia?

    ONIC menyiapkan guru atau translator untuk membantu POOM mempelajari bahasa Indonesia. POOM juga berinisiatif menyewa guru di Thailand serta menggunakan perangkat translator untuk mempermudah komunikasi dengan rekan setimnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More