Perubahan besar akan mewarnai kompetisi Free Fire pada 2027. Setelah sebelumnya tim-tim Indonesia harus bersaing di level nasional dan Asia Tenggara (SEA), format baru akan menghapus turnamen regional tersebut.
Artinya, kesempatan untuk menguji kekuatan melawan tim-tim dari Thailand, Vietnam, Malaysia, dan negara lain di kawasan Asia Tenggara akan semakin terbatas.
Dalam skema kompetisi baru, persaingan di FFWS Indonesia bakal menjadi semakin krusial. Sebab, hanya dua tim terbaik dari liga nasional yang akan mendapatkan tiket menuju turnamen global.
Kondisi ini membuat setiap tim harus mempersiapkan diri lebih matang, bukan hanya dari segi strategi permainan, tetapi juga kedalaman roster dan sistem regenerasi pemain.
RRQ Kazu ternyata sudah memiliki rencana untuk menghadapi perubahan tersebut. Bahkan, program pengembangan pemain mereka telah dirancang sejak 2025 melalui pembentukan RRQ Academy.
Coach RRQ Kazu, ADY, mengungkapkan bahwa akademi tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menyiapkan talenta baru yang bisa memperkuat tim utama maupun berkembang di ekosistem Free Fire Indonesia.
Menurut ADY, langkah ini diambil karena regenerasi pemain Free Fire di Indonesia masih menjadi tantangan. Dengan membangun jalur pengembangan pemain sendiri, RRQ ingin memiliki persediaan talenta yang siap berkembang dan berpotensi mengisi posisi di RRQ Kazu pada masa mendatang.
"Itu sudah kita pikirkan. Pada 2025, saya punya program untuk mewacanakan stock player RRQ Kazu untuk beberapa tahun ke depan. Kemudian, pada 2026, manajemen menyetujui dan kita menjalankan RRQ Academy dengan beberapa stock yang kita punya," ungkap ADY, saat ditemui di acara Pelepasan Tim Indonesia Menuju FFWS Global Finals 2026 di Jakarta Selatan pada Jumat (30/10).
Ia mengakui, program tersebut sempat mendapat kritik dari sejumlah tim esports lain. RRQ dinilai terlalu mendominasi area perekrutan pemain karena memiliki jalur pengembangan talenta sendiri.
"Kita memang, khususnya Indonesia, sedang krisis regenerasi player. Jadi, kita mencoba mengembangkan bibit itu dan menjalankannya pada 2026. Sekarang kita sudah punya cukup banyak stock. Belum bisa dikategorikan matang, tetapi prosesnya sudah sedikit berkembang," lanjutnya.
ADY memperkirakan hasil pengembangan RRQ Academy mulai bisa diimplementasikan lebih jauh pada 2027. Apalagi, regulasi FFWS Indonesia disebut memungkinkan pemain dengan usia minimal 14 tahun untuk berkompetisi di liga lokal.
Dengan ketentuan tersebut, pemain dari RRQ Academy dan level pengembangan di bawahnya berpeluang tampil dalam kompetisi yang sama dengan RRQ Kazu, meskipun tidak berada di bawah manajemen yang sama.
Artinya, RRQ tidak hanya menyiapkan pemain untuk kebutuhan internal tim utama. Jalur pengembangan tersebut juga dapat membuka kesempatan bagi talenta muda untuk mendapatkan pengalaman kompetitif dan berkembang di ekosistem Free Fire Indonesia.
Table of Content
