Kekuatan Marcel berasal dari kamera yang dirasuki sisi lain dirinya, Clemar. (Fandom)
Nama lengkap Marcel adalah Marcel Paxley, yang lahir di keluarga bangsawan House Paxley.
Namun, Marcel membawa stigma sebagai "anak pengkhianat" setelah ayahnya bunuh diri. Ia tumbuh dengan metode disiplin keras dari keluarga, yang lebih dibilang sebagai kekerasan fisik. Namun Marcel tetap teguh berkat kasih sayang dari ibunya.
Suatu hari, ibunya memberi Marcel kamera sebagai hadiah ulang tahun, yang kelak menjadi simbol penting dalam hidupnya.
Setelah ibunya meninggalkan House Paxley, Marcel hampir mati akibat "didisplinkan" oleh keluarganya. Dalam momen kritis, kamera milik ibunya bereaksi dengan sihir gelap, dan melahirkan entitas baru bernama Clemar. Clemar adalah sisi lain dari jiwa Marcel yang dingin, penuh amarah, dan menjadi saksi penderitaan Marcel.
Sejak itu, Marcel dan Clemar hidup berdampingan: satu elegan, satu penuh luka, namun saling melengkapi. Dengan kekuatan kameranya dan Clemar, Marcel menjadi tangan kanan Duke Aamon.
Ia berubah dari anak lemah yang dibully menjadi sosok yang ditakuti berkat sihir gelap untuk menegakkan nama House Paxley.
Bagi Marcel, rasa sakit adalah bahan kimia terbaik untuk "mengembangkan" jiwa, dan ketidaksempurnaan adalah kedalaman sejati.
Bertahun-tahun kemudian, Marcel mengetahui ibunya membangun kehidupan baru, menikah lagi, dan memiliki anak bernama Melissa sebelum meninggal dunia. Kabar kematian ibunya memicu kekacauan batin dalam diri Marcel, sehingga Clemar berusaha merebut tubuhnya, dan membuatnya kehilangan kendali.
Dalam perjalanan di dalam kameranya, Marcel akhirnya menyadari bahwa Clemar adalah bagian dari dirinya sendiri, dimana Clemar menyimpan semua rasa sakit yang ia buang. Ia berdamai dengan Clemar, menerima Melissa sebagai adik, dan memahami bahwa seni lahir dari ketidaksempurnaan hidup.
Marcel kini hidup sebagai seniman sekaligus fotografer terbesar di Moniyan, bersama Clemar sebagai saksi dan rekan kerjanya. Ia memandang dunia melalui dua lensa: elegan sekaligus penuh luka. Marcel percaya bahwa meskipun merasakan cacat dan penderitaan, dunia justru tampak nyata dan indah.