Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
Legenda MLBB Malaysia Soloz punya pandangan dan harapan seputar masa depan MPL Malaysia. (Dok. GGWP/Mecca Medina)
Legenda MLBB Malaysia Soloz punya pandangan dan harapan seputar masa depan MPL Malaysia. (Dok. GGWP/Mecca Medina)

Intinya sih...

  • MPL Malaysia melakukan transisi ke sistem franchise mulai season 17

  • Tim dapat menyewa slot franchise selama 4 tahun dengan harga Rp 3-4 miliar

  • Soloz menilai sistem franchise bagus untuk masa depan player dan berharap bisa membantu mencari bakat baru di Malaysia

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

GGWP mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Soloz, legenda MLBB asal Malaysia, seputar perkembangan esports MLBB di negaranya.

Saat ini, MPL Malaysia sedang melakukan transisi ke sistem franchise, dimulai dari season 17. Sistem franchise ini mengatur beberapa aspek seperti aturan gaji dan transfer pemain, bagi keuntungan, dan sebagainya.

Peralihan sistem franchise ini mengundang reaksi dari berbagai tim. Ada yang menyambut positif, tapi ada juga yang keberatan karena beberapa alasan.

Bagaimana pendapat Soloz seputar sistem franchise MPL Malaysia ini?

In Article GGWP_.png


Bagaimana sistem franchise MPL Malaysia bekerja?

MPL Malaysia season 17 akan menggunakan sistem franchise yang berbeda dengan MPL ID dan MPL PH. (Dok. Moonton)

Seperti dikutip dari Dunia Games dan yang telah diumumkan di grand final M7 World Championship, sistem franchise MPL Malaysia akan dimulai di season 17 dengan 8 tim sebagai peserta utamanya.

Tim yang ingin berpartisipasi di MPL Malaysia dapat menyewa slot dengan durasi 4 tahun. Artinya, tim berkomitmen berpartisipasi di MPL Malaysia selama 8 season.

Selama masa sewa, tim tidak diperbolehkan menjual, memindah tangankan, atau menghibahkan slot mereka kepada tim lain.

Harga sewa slot franchise MPL Malaysia sendiri ditaksir sekitar Rp 3-4 miliar. Namun, nantinya sebagian dari uang sewa tersebut akan dikembalikan kepada tim sepanjang periode sewa slot.

Sistem ini berbeda dengan franchise MPL Indonesia atau Filipina, dimana tim membeli sot permanen yang bisa diperjual belikan kepada tim lain, namun tidak punya sistem refund.

Selain itu, tim yang sebelumnya sudah punya cabang di dua regional berbeda (contoh ONIC, Team Liquid, Aurora) tidak boleh bergabung dengan MPL Malaysia.

Menimbang positif dan negatif sistem franchise MPL Malaysia

Soloz menilai sistem franchise punya kelebihan dan kekurangan yang bisa disikapi beragam oleh tim. (Dok. GGWP/Mecca Medina)

Dalam wawancara eksklusif bersama GGWP, Soloz menilai sistem franchise di MPL Malaysia bagus untuk memastikan masa depan para player.

Namun, ia juga memahami alasan kenapa ada tim yang merasa keberatan, apalagi jika kendalanya menyangkut masalah budget.

"Jika MPL Malaysia membuat franchise, itu akan menguatkan ekosistem dan di saat bersamaan juga akan mengembangkan (scene-nya). Kedua, untuk mengamankan (masa depan) player," kata Soloz.

"Jika tak pakai sistem franchise, setiap tim mungkin ada masalah keuangan dan sebagainya. Dengan sistem franchise, MLBB akan memilih beberapa tim yang aman, yang tak ada masalah keuangan," paparnya.

Soloz mengerti ada beberapa tim yang enggan bergabung dengan sistem franchise. Namun karena transisi ke sistem franchise sudah diumumkan sejak lama, mau tidak mau harus dijalani.

"Bagi saya franchise itu bagus karena di Filipina ataupun Indonesia sudah lama menggunakan franchise. Di Malaysia, paling dekat baru di season selanjutnya (S17)," tambah Soloz.

Mencari bakat-bakat terpendam di Negeri Jiran

Soloz berharap sistem franchise MPL Malaysia bisa membantu tim dalam scouting bakat terpendam. (Dok. GGWP/Mecca Medina)

Soloz juga berharap, sistem franchise MPL Malaysia bisa membantu tim-tim mencari bakat baru, baik itu player maupun coaching staff.

Khususnya coaching staff, scene MPL Malaysia juga membutuhkan banyak coach asli Malaysia, karena selama ini tim masih banyak mengimpor coach dari Filipina dan Indonesia.

"Malaysia punya jumlah penduduk yang sedikit, jadi kami kesulitan mencari bakat. Apa yang bisa kami perbuat adalah, jika ada event lokal atau turnamen kecil, kita bisa ambil bakat baru di sana," terang Soloz.

"Di Indonesia dan Filipina, penduduknya banyak sehingga persaingannya ketat. Dibandingkan di Malaysia, penduduknya sedikit jadi persaingannya rendah. Tapi kami sulit mencari bakatnya," lanjutnya.

Tak hanya unggul dari sisi demografi, Indonesia dan Filipina juga punya liga MDL yang menjadi proving ground untuk player dan coach baru.

Malaysia juga punya liga development yang sama, yaitu MAL (MLBB Academy League). "Mungkin (MAL) berbeda dari MDL dari segi viewership dan kelayakan," ujar Soloz.

"Kami berharap jika sudah masuk franchise nanti, tim-tim franchise bisa lebih sering melakukan scouting," pungkasnya.

Menyambut masa depan MLBB di Malaysia

Selangor Red Giants pada opening ceremony M7. (Dok. Moonton)

Layaknya kompetisi olahraga lainnya, perubahan regulasi di turnamen esports kerap mengundang pro dan kontra. Hal ini merupakan sebuah kewajaran, karena menyangkut hajat pemain dan personel lainnya.

Hal yang sama juga berlaku pada sistem franchise di MPL Malaysia. Franchise memberikan keamanan berlapis bagi tim dan pemain, namun menuntut komitmen waktu, tenaga, dan finansial yang sangat tinggi.

Melalui wawancara dengan Soloz barusan, ia mewakili harapan para insan MLBB Malaysia, yang ingin melihat scene Malaysia berkembang lebih jauh lagi.

Diskusi dengan para stakeholder, baik itu developer dan tim, sangat penting untuk mencari jalan tengah yang bisa disepakati semua pihak.

Dengan semakin dekatnya MPL Malaysia season 17, semoga nantinya sistem franchise ini mampu menjamin masa depan esports MLBB Malaysia.

FAQ

Apa itu sistem franchise MPL Malaysia dan kapan mulai diterapkan?

Sistem franchise MPL Malaysia adalah format baru liga yang mulai berlaku di Season 17, dengan 8 tim utama sebagai peserta.

Bagaimana mekanisme kepemilikan slot franchise di MPL Malaysia?

Tim dapat menyewa slot selama 4 tahun (8 season) dengan biaya sekitar Rp 3–4 miliar. Slot tidak boleh dijual, dipindahtangankan, atau dihibahkan, namun sebagian biaya sewa akan dikembalikan selama periode kontrak.

Apa perbedaan sistem franchise MPL Malaysia dengan MPL Indonesia dan Filipina?

Di Malaysia, slot bersifat sewa dengan sistem refund, sedangkan di Indonesia dan Filipina slot dibeli secara permanen dan bisa diperjualbelikan tanpa adanya refund.

Bagaimana pendapat Soloz mengenai sistem franchise ini?

Soloz menilai sistem franchise positif karena dapat memperkuat ekosistem, menjamin masa depan pemain, dan memastikan tim yang ikut serta memiliki kondisi finansial yang stabil.

Apa harapan Soloz terhadap dampak franchise bagi perkembangan esports Malaysia?

Ia berharap sistem ini mendorong tim untuk lebih aktif melakukan scouting, melahirkan bakat baru baik pemain maupun coach lokal, serta memperkuat kompetisi melalui liga pengembangan seperti MAL.

Editorial Team