Soloz berharap sistem franchise MPL Malaysia bisa membantu tim dalam scouting bakat terpendam. (Dok. GGWP/Mecca Medina)
Soloz juga berharap, sistem franchise MPL Malaysia bisa membantu tim-tim mencari bakat baru, baik itu player maupun coaching staff.
Khususnya coaching staff, scene MPL Malaysia juga membutuhkan banyak coach asli Malaysia, karena selama ini tim masih banyak mengimpor coach dari Filipina dan Indonesia.
"Malaysia punya jumlah penduduk yang sedikit, jadi kami kesulitan mencari bakat. Apa yang bisa kami perbuat adalah, jika ada event lokal atau turnamen kecil, kita bisa ambil bakat baru di sana," terang Soloz.
"Di Indonesia dan Filipina, penduduknya banyak sehingga persaingannya ketat. Dibandingkan di Malaysia, penduduknya sedikit jadi persaingannya rendah. Tapi kami sulit mencari bakatnya," lanjutnya.
Tak hanya unggul dari sisi demografi, Indonesia dan Filipina juga punya liga MDL yang menjadi proving ground untuk player dan coach baru.
Malaysia juga punya liga development yang sama, yaitu MAL (MLBB Academy League). "Mungkin (MAL) berbeda dari MDL dari segi viewership dan kelayakan," ujar Soloz.
"Kami berharap jika sudah masuk franchise nanti, tim-tim franchise bisa lebih sering melakukan scouting," pungkasnya.