Terlalu fokus push rank, grinding event, atau mengejar target battle pass hingga melewatkan salat atau menunda ibadah lainnya juga menjadi hal yang patut diwaspadai.
Main game tidak membatalkan puasa, tetapi ketika hobi tersebut membuat kita lalai dari kewajiban, maka nilai ibadah puasa bisa berkurang. Manajemen waktu menjadi kunci agar aktivitas gaming dan ibadah tetap berjalan seimbang.
Pada akhirnya, penting untuk dipahami bahwa bermain game bukanlah aktivitas yang membatalkan puasa. Yang menentukan kualitas puasa seorang gamer adalah sikap dan perilakunya saat bermain.
Ramadan bisa menjadi momen untuk membuktikan bahwa gamer juga mampu menjaga lisan, emosi, dan etika dalam dunia digital. Jadi, tetap seru saat mabar, tetap kompetitif saat ranked, tetapi jangan lupa menjaga sikap agar pahala puasa tetap maksimal.
Apakah main game membatalkan puasa? | Tidak, main game tidak membatalkan puasa. Bermain game hanyalah aktivitas hiburan. Namun, sikap saat bermain—seperti berkata kasar, marah berlebihan, atau lalai ibadah—bisa mengurangi pahala puasa meski tidak sampai membatalkan puasa. |
Apakah berkata kasar saat main game membatalkan puasa? | Berkata kasar saat voice chat atau di kolom chat tidak membatalkan puasa secara hukum. Namun, perbuatan tersebut dapat mengurangi pahala karena puasa juga mengajarkan untuk menjaga lisan dan ucapan. |
Apakah marah saat kalah game bisa membatalkan puasa? | Marah karena kalah game tidak membatalkan puasa. Meski begitu, emosi berlebihan seperti berteriak atau berkata kasar bisa mengurangi nilai ibadah puasa karena bertentangan dengan tujuan puasa untuk melatih kesabaran. |
Apakah menuduh orang cheat tanpa bukti membatalkan puasa? | Menuduh orang cheat tanpa bukti tidak membatalkan puasa, tetapi termasuk perbuatan yang bisa mengurangi pahala. Menyebarkan tuduhan atau fitnah bertentangan dengan nilai kejujuran dan etika yang dijunjung selama bulan Ramadan. |