Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
Review Neverness to Everness, Game Banyak Minus tapi Tetap Seru!
Nanally selfie bareng Lacrimosa. (ggwp/steven sianada)
  • Neverness to Everness menawarkan konsep urban open-world dengan banyak fitur seperti kendaraan, misi variatif, dan aktivitas sampingan, namun eksekusinya dinilai kurang memuaskan dan terasa repetitif.

  • Beberapa aspek seperti cerita lambat, kontrol kendaraan kaku, serta minigame dan misi horor yang membingungkan membuat pengalaman bermain sering menjengkelkan bagi pemain.

  • Meskipun begitu, grafis indah, sistem pertarungan cepat, mekanik gacha bersahabat, serta performa stabil di berbagai perangkat menjadi nilai plus yang membuat game ini tetap layak dicoba.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sudah dua minggu rasanya sejak Neverness to Everness dirilis. Fase Closed Beta Test kemarin meninggalkan impresi yang kurang positif akibat isu-isu aneh yang menghantui.

Dan sekarang, penulis pun telah merasakan sebagian besar konten yang ditawarkan pada pertengahan awal versi 1.0 ini.

Kira-kira, apakah ada yang berubah semenjak rubrik Impresi Singkat kemarin? Apa yang bagus, apa yang buruk, dan apakah NTE worth it untuk dicoba? Well, semuanya akan dijawab pada review Neverness to Everness kali ini.

Persiapkan cemilanmu, ulasan ini cukup panjang, bahkan penulis pun harus memangkas banyak hal agar kamu tidak kebingungan sangat membaca! That said, let's start the journey to Hethereau City!

In Article GGWP_.png


Banyak Kekurangan, Kadang Bikin Jengkel!

Waduh, NPC-nya mabuk! (ggwp/steven sianada)

Jadi, kira-kira apa yang membuat NTE berbeda dari kompetitornya? Ada cukup banyak, dari fitur berkendara dengan mobil dan motor, aktivitas sampingan yang melimpah, misi yang bervariasi, dan kota terbuka yang bertemakan urban! Sayangnya, banyak dari hal ini yang terasa begitu kurang.

Kita mulai terlebih dahulu dengan kendaraan, satu hal yang menjadi daya tarik terlebih untuk penggemar game racing seperti penulis. Semenjak CBT kemarin, tampak tidak ada perubahan yang berarti, bahkan pengalaman ini pun diperburuk mengingat adanya satu penemuan yang mengagetkan.

Sebagai sebuah fitur untuk bepergian dari satu lokasi ke lokasi lainnya, kendaraan di NTE mungkin sudah terasa lebih dari cukup, mobil terasa cukup cepat terlebih jika kamu sudah membeli Regalia Griffin. Namun, untuk gamer yang ingin mencari sensasi balapan, bersiaplah kecewa.

Online race adalah mode terburuk yang pernah penulis cicipi. Untuk rank terbawah saja kamu sudah harus melawan mobil dengan performa yang lebih tinggi seperti Regalia Griffin. (ggwp/steven sianada)

Handling yang ditawarkan terasa begitu kaku, dengan setiap mobil hampir tidak memiliki perbedaan selain akselerasi, kecepatan maksimal, hingga seberapa mudah mobil tersebut berbelok dan drift.

Terlepas dari mobil tertentu seperti Novus B100 dan Regalia Pursuit V8, hampir semua mobil terasa sama saja dan monoton.

Setiap mobil terasa begitu grippy, sulit untuk dipaksa oversteer secara natural tanpa menggunakan handbrake. Bahkan, disaat kamu mengendarai mobil tertentu dengan top speed maksimal, sense of speed yang ditawarkan terlihat begitu pelan, layaknya kamu sedang cruising.

Dan penemuan yang penulis sebutkan sebelumnya? Ternyata, kamu harus mengunci framerate-mu menjadi 30fps untuk bisa mendapatkan pengalaman terbaik saat balapan, terlebih jika kamu ingin melewati belokan tajam dengan teknik drifting.

Seluruh kejanggalan ini membuat penulis semakin yakin bahwa tidak ada satupun pengembang di Hotta Studio yang pernah memainkan game balap maupun GTA.

Ditambah lagi, pilihan mobil yang ada terasa sedikit dan membosankan.

Akan ada karakter yang bisa kamu temukan melalui mini story yang bisa kamu periksa di map, contohnya adalah Lacrimosa my bini. (ggwp/steven sianada)

Kamu seorang penikmat cerita dan menginginkan sesuatu yang terasa layaknya anime komedi? Kamu jelas akan dikecewakan dengan presentasi yang ditawarkan pada NTE! Prolog awal yang terasa begitu lamban, ditambah dengan hadirnya Taygedo membuat banyak orang kecewa, termasuk penulis.

Bahkan, ada momen dimana kamu harus menunggu cukup lama sebelum kamu bisa membaca dialog seterusnya. Faktor-faktor ini membuat pacing cerita terasa begitu mengesalkan, membuat penulis berakhir dengan menekan tombol skip.

Untungnya, ada beberapa cerita yang begitu menarik, contohnya seperti side story Akane Rin, yang memiliki isu yang sama namun terbantu berkat para tokoh yang begitu menarik.

Banyak Ide Menarik, Namun Eksekusi Gagal Total!

Mendadak jadi kangen sama Dementium. (ggwp/steven sianada)

Penulis merasa ada cukup banyak hal yang secara teori harusnya bisa memikat banyak gamer, namun sayangnya hal-hal tersebut dieksekusi secara cukup buruk. Ambil minigame rhythm yang bisa kamu dapatkan dari side story Akane Rin contohnya, tidak peduli jika kamu merupakan pemain game rhythm, timing dan akurasi tiap lane terasa berantakan!

Lalu, ada misi anomali seperti Nameless Hospital yang membawamu menuju sebuah rumah sakit dengan tema horor. On paper, misi ini terlihat menarik, atmosfir yang ditawarkan terasa begitu mencekam, terlebih kamu harus menghindari anomali yang tidak bisa kamu kalahkan.

Secara eksekusi? Nameless Hospital sangat mengecewakan! Mencari sebuah key item terasa begitu sulit, karena kamu tidak diberitahukan dimana benda-benda tersebut berada, bahkan tidak ada satupun highlight yang akan membantu. Ujung-ujungnya, kamu dipaksa untuk terus kembali dari satu ruangan menuju ruangan lain untuk memastikan tiada item yang tertinggal.

Anomali yang memburumu tidak terasa menyeramkan lagi, malah jadi sebuah penghalang yang menyebalkan. Ini berakhir dengan sebuah trik dimana kamu bisa menggunakan dash milik Skia untuk melewati sang anomali tanpa terdeteksi, yang justru semakin menghilangkan esensi horor yang ada.

Salah satu heist penulis yang terjadi bug, mengakibatkan visual yang terlihat monokrom hingga hilangnya phone booth. (ggwp/steven sianada)

Selain itu, ada mode merampok bank yang terasa cukup menarik, kamu akan ditantang untuk menelusuri bank dengan banyak ruangan yang bisa kamu eksplorasi, menghindari anomali yang mengitari ruangan. Sayangnya, hal ini malah berakhir menjadi sebuah mode mingguan yang repetitif.

Variasi yang ditawarkan terasa begitu minim terkecuali loot yang diacak dan pintu keluar melalui phone booth yang juga diacak. Hal ini menjadi sebuah penghalang bagi pemain casual yang hanya ingin menyelesaikan mingguan mereka untuk mendapatkan sejuta fons serta paw-paw coin.

NTE terasa seperti sebuah pepatah "jack of all trade, master of none," yang mana Hotta memberikan banyak mode, misi, dan aktivitas yang bisa kamu kerjakan, namun kebanyakan justru menjadi sebuah hal yang terlalu repetitif, membosankan, atau bahkan tidak seseru yang dikira.

Ternyata, Tidak Semuanya Jelek!

Ada begitu banyak lokasi fotografi yang tampak begitu indah. (ggwp/steven sianada)

Kabar baiknya, penulis tidak bisa berhenti memainkan NTE karena beberapa faktor yang berhasil dieksekusi oleh Hotta Studio. Satu hal yang membuat penulis terus kembali datang dari pemandangan yang begitu indah, terlebih jika kamu mengatur grafis pada medium atau lebih tinggi.

Sangat tepat bagi Hotta Studio untuk memilih Jepang sebagai sumber inspirasi mereka. Ada banyak lokasi yang terlihat begitu indah, membuatmu ingin untuk mengambil foto, memainkan filter, dan membagikan tangkapan tersebut pada sesama gamer.

Combat juga sebenarnya juga lumayan oke, layaknya Wuthering Waves sistem pertarungan terasa fast-paced dengan mekanika seperti perfect dodge, parry, hingga character swap melalui sistem yang mereka namakan sebagai esper cycle. Semua ini membuat pertarungan terlihat dinamis dan bombastis.

Berbicara mengenai karakter, sistem pity yang ditawarkan juga sangat bersahabat bagi pemain.

Tidak lagi kamu bertaruh dengan sistem 50:50 yang ditawarkan oleh Hoyoverse, dalam 90 tarikan kamu akan mendapatkan karakter dari limited banner yang kamu incar! Tarik lebih banyak, dan kamu bisa saja mendapatkan skin karakter!

Optimisasi pun juga tampak diperbaiki. Berkat shader yang tidak lagi dikompilasi selama permainan, kamu tidak akan merasakan stutter signifikan selama permainan di PC. Pada mobile pun performa juga oke, penulis bisa mendapatkan sekitar 45fps pada pengaturan medium di POCO X7 Pro. Good job, Hotta!

Kesimpulan: Minimal Jajal Sekali, Deh!

Lho, ada dua Nanally?! (ggwp/steven sianada)

Terlepas dari banyaknya sisi negatif yang penulis sebutkan, Neverness to Everness tetap mampu menarik perhatian penulis, bukan dari pengalaman berkendara yang terasa generik, namun dari pemandangan yang begitu indah, seleksi karakter yang cukup oke, hingga konsep urban open-world yang terasa segar.

Tentunya, para gamer yang tetap penasaran setidaknya perlu mencoba NTE sekali saja. Mungkin saja, kamu yang lelah dengan tema post-apocalypse ataupun high-fantasy akan lebih menyukai kota modern dengan banyaknya referensi kultur pop anime.

Untuk review kali ini, penulis akan memberikan rating 3/5.

Spesifikasi Minimum (PC)

Operating System

Windows 10

Processor

Intel Core i7-10700 atau AMD Ryzen 7 3700X

Memory

16GB

GPU

NVIDIA GTX 1660 atau AMD RX 5600 XT atau Intel Arc A580

Storage

60GB (SSD)

Sumber: Neverness.gg

Neverness to Everness
3/5
Neverness to Everness merupakan game gacha berbasis Urban Open-World Action RPG yang dikembangkan oleh Hotta Studio. Game ini menggabungkan berbagai macam elemen, dari komedi, supranatural, hingga kota urban modern yang terinspirasi dari Jepang. Jelajahi kota Hethereau, rakit tim-mu, dan kalahkan para anomali!
GenreUrban Action-RPG
DevelopersHotta Studio
PublisherN2E
PlatformMobile, Playstation 5, PC
PriceRp. 0

Editorial Team