Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
10 Fakta Ghost in the Cell, Film Horor Satir Dari Joko Anwar
Ini dia fakta menarik Ghost in the Cell. (Dok. Come and See Pictures)
  • Film Ghost in the Cell karya Joko Anwar memadukan horor supranatural, komedi satir, dan kritik sosial tentang ketimpangan hukum serta korupsi di Indonesia.
  • Film ini tayang perdana di Berlinale 2026, mendapat sambutan positif internasional, dan berhasil menarik sekitar 600 ribu penonton dalam tiga hari pertama penayangan di Indonesia.
  • Joko Anwar membebaskan penggunaan aset film untuk UMKM sebagai bentuk dukungan kreatif, sekaligus menyampaikan pesan moral tentang persatuan melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Film horor satir berjudul Ghost in the Cell karya Joko Anwar resmi tayang di bioskop Indonesia dan menampilkan kisah para narapidana yang menghadapi kematian misterius akibat entitas supranatural.
  • Who?
    Joko Anwar sebagai sutradara bersama ratusan pemain, termasuk karakter utama seperti Six, Kepala Lapas Jeffry, dan sejumlah narapidana lain yang menjadi pusat cerita.
  • Where?
    Tayang di bioskop seluruh Indonesia setelah sebelumnya melakukan pemutaran perdana dunia di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026 di Jerman.
  • When?
    Pemutaran perdana berlangsung pada Berlinale 2026, sementara penayangan umum di Indonesia dimulai beberapa waktu setelah festival tersebut dengan capaian 600 ribu penonton dalam tiga hari pertama.
  • Why?
    Film ini dibuat untuk menyampaikan kritik sosial terhadap ketimpangan hukum dan penyalahgunaan kekuasaan melalui pendekatan horor dan komedi satir khas Joko Anwar.
  • How?
    Pembuatan dilakukan dengan membangun set penjara dari nol selama dua bulan, melibatkan 412 pemain, serta menggabungkan efek visual, pencahayaan 360 derajat, dan elemen simbolik dalam nomor tahanan setiap karakter.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada film baru dari Pak Joko Anwar namanya Ghost in the Cell. Ceritanya tentang orang-orang di penjara yang ketakutan karena ada hantu jahat. Tapi filmnya juga lucu dan ngomong soal orang yang tidak adil. Film ini sudah ditonton banyak orang dan mereka suka. Sekarang filmnya masih tayang di bioskop.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
“Ghost in the Cell” menampilkan keberanian kreatif Joko Anwar dalam memadukan horor, komedi satir, dan kritik sosial yang tetap menyisakan ruang bagi optimisme. Keberhasilan film ini diterima di festival internasional serta antusiasme penonton lokal mencerminkan kekuatan cerita yang universal. Sikap terbuka Joko membebaskan IP-nya bagi UMKM juga memperlihatkan semangat kolaboratif yang menginspirasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Film Ghost in the Cell dari Joko Anwar telah rilis di bioskop Indonesia, dan dengan cepat menjadi favorit para penonton.

Film ini menceritakan tentang sekelompok narapidana dalam sebuah lapas, yang menghadapi serangkaian kematian misterius yang berhubungan dengan entitas supranatural.

Meski mengedepankan genre horor, Joko Anwar memasukkan elemen komedi satir yang menyentil ketidak adilan sosial dalam masyarakat Indonesia.

Seperti apa film Ghost in the Cell, dan apa saja keunikannya? Berikut adalah pembahasannya.

In Article GGWP_.png


1. Tayang perdana di Jerman

World Premiere Ghost in the Cell di Jerman (Dok. Come And See Pictutres)

Ghost in the Cell mendapatkan world premiere di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Film ini mendapatkan respon positif dari khalayak internasional.

Awalnya, Joko Anwar dan sebagian cast mengaku khawatir karena konten film ini sangat terikat dengan kultur dan kondisi negara Indonesia.

Namun, muatan tersebut dapat diterima oleh penonton luar negeri dimana mereka menikmati film tersebut.

2. Horor yang mencampurkan komedi satir

Joko Anwar mencampurkan elemen horor dan komedi satir. (dok. Come and See Pictures/Ghost in the Cell)

Berbeda dari karya-karya Joko Anwar sebelumnya, Ghost in the Cell memadukan unsur horor supranatural, komedi gelap, dan kritik sosial tentang korupsi dan ketimpangan hukum.

Sindiran tersebut hadir dalam para narapidana yang jadi tokoh di film ini. Mereka menjadi tahanan karena berbagai kasus kriminal, hingga kasus salah tangkap.

Meski demikian, Joko Anwar tak ingin menonjolkan sisi hopeless dalam satirnya, karena ia yakin masih ada rasa optimisme yang bisa diperjuangkan.

3. Setting penjara sebagai miniatur negara

Setting penjara menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia. (dok. Come and See Pictures/Ghost in the Cell)

Lapas Labuhan Angsana digambarkan sebagai miniatur negara. Para tahanan dilanda rasa ketakutan karena adanya penyalahgunaan kekuasaan.

Banyak narapidana yang ditahan karena kejahatan yang mereka lakukan, namun sebagian juga dijebloskan meskipun tidak bersalah dalam sebuah kasus.

Kepala lapas Jeffry menjadi simbol kekuasaan yang menyelewengkan posisinya demi keuntungan pribadi.

4. Gimmick hantu yang unik

Kematian Tompel menjadi trigger kasus kematian kisterius. (dok. Come and See Pictures/Ghost in the Cell)

Hantu dalam film ini tidak menyerang secara acak, melainkan memburu tahanan yang memiliki energi atau aura paling negatif, seperti kebencian dan keserakahan.

Hal ini diamati oleh Six, salah satu narapidana yang punya kemampuan unik, yaitu bisa melihat aura orang lain.

Six melihat bahwa beberapa narapidana memiliki aura merah pekat yang menandakan mereka memendam amarah.

5. Makna di balik nomor narapidana

Nomor tahanan narapidana mengandung makna tersembunyi. (Dok. IMDB)

Tahukah kamu, setiap narapidana memiliki nomor identifikasi unik, yang ternyata menggambarkan kepribadian mereka.

Misalnya, Six punya nomor tahanan 7226 yang mereferensikan surah Al-Jinn ayat 26 pada Al-Quran: "Dia mengetahui yang gaib. Lalu, Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada siapa pun."

Sementara itu, Bimo punya nomor tahanan 2239 yang mereferensikan Matius 22:39 dalam kitab Injil: "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

6. Set penjara dibangun dari nol

Set penjara didesain khusus dari nol. (dok. Come and See Pictures/Ghost in the Cell)

Tim produksi membangun set penjara secara khusus selama dua bulan, untuk menciptakan atmosfer yang realistis dan mencekam.

Set ini juga didesain untuk mengakomodir teknik pencahayaan 360 derajat, agar aktor dapat bergerak bebas dan kamera menangkap suasana penjara secara organik.

7. Libatkan ratusan pemain

Ratusan pemain terlibat sebagai figuran di penjara. (Dok. Come and See Pictures)

Film ini memiliki jumlah pemain yang sangat besar, mencapai 412 orang.

Angka pemain yang besar ini bertujuan untuk menghadirkan dinamika penjara yang hidup dan kompleks.

8. Ditonton ratusan ribu orang dalam 3 hari

Momen premiere Ghost in the Cell di Indonesia. (IDN Times/Juan Dwi)

Selama 3 hari, Ghost in the Cell berhasil menjaring sekitar 600 ribu penonton. Hal ini lemanjutkan tren positif dari beberapa film Joko Anwar sebelumnya.

Tanggapan penonton juga beragam dan cenderung positif. Mereka sangat tertantang untuk menikmati nuansa horor khas Joko Anwar, tapi juga terhibur dengan komedi dan satirnya.

9. Bebaskan IP Ghost in the Cell untuk UMKM

Joko Anwar bebaskan kreator kecil membuat merchandise Ghost in the Cell. (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Dalam sebuah gestur yang sangat positif, Joko Anwar membebaskan pelaku UMKM untuk memproduksi merchandise Ghost in the Cell.

Kreator bisa menggunakan aset resmi film Ghost in the Cell dalam karya mereka, tanpa harus membayar royalti.

“Teman-teman UMKM yang ingin membuat dan menjual merchandise dari Ghost in the Cell dipersilakan menggunakan asset dan brand identity Ghost in the Cell secara gratis dan bebas royalti untuk keperluan komersial skala UMKM,” ungkap Joko Anwar.

10. Pesan moral Ghost in the Cell

Di balik keterpurukan, masih ada harapan untuk dipegang. (dok. Come and See Pictures / Ghost in the Cell)

Ghost in the Cell menekankan bahwa satu-satunya cara bertahan hidup di lingkungan rusak adalah bersatu melawan penindas, baik manusia maupun supranatural.

Hal ini ditunjukkan lewat bagaimana para narapidana bekerja sama untuk menghindari ancaman maut.

Pesan inilah yang Joko Anwar harapkan bisa menginspirasi penonton untuk terus melawan ketidak adilan di dalam masyarakat.

Editorial Team