Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
For
You

Mengenang Karya Sapardi Djoko Darmono: Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni

Mengenang Karya Sapardi Djoko Darmono: Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni

Kabar duka merundung Indonesia. Pasalnya, Sastrawan besar Sapardi Djoko Darmono wafat pada Minggu (19/7). Selayaknya, tentu banyak yang mengenang karya Sapardi.

Sapardi begitu populer dengan deretan karyanya, terutama sajak dan puisi yang telah ditulisnya sejak tahun 1950-an.

Boleh dibilang, sajak dari Sapardi banyak digunakan para lelaki yang ingin memulai suatu hubungan dengan seorang wanita.

Betapa tidak, karya Sapardi bukan cuma enak dibaca namun didengar. Diketahui, dua orang mususi, Ari – Reda, yang telah membuat musikalisasi karya Sapardi: Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni.

Lantas, bagaimana Sapardi membuat karya terbaiknya itu? Melalui artikel ini, dalam seri mengenang karya Sapardi, mari kita ulas bersama-sama.

Sajak pertama dibuat pada tahun 1969 tentang kesedihan

Mengutip isi pengantar sajak DukaMu Abadi, yang dipersembahkan: “kepadamu, Mu” itu terbagi atas dua bagian, yaitu berdasarkan angka tahun: 1967 (24 puisi) dan 1968 (18 puisi).

Sajak DukaMu Abadi erbit di tahun 1969. Tercatat setelahnya, ia rajin menelurkan karya-karya baru. Di antaranya Sajak Putih, Sonet: X, dan bagian II dari puisi Dua Sajak di Bawah Satu Nama.

Dikutip dari Wikipedia, dia juga terkenal sebagai penyair angkatan 1970. Di usianya yang tak lagi muda Sapardi juga masih aktif menulis puisi.

Paling diingat oleh semua orang ialah kalimat: Yang Fana adalah Waktu. Jadi salah satu puisi legendarisnya. Ini adalah sebuah ungkapan terdalam dari buah pikir Sapardi.

Selain itu, salah satu yang paling dikenal adalah Hujan Bulan Juni yang dituliskan pada 26 tahun lalu, 1994.

Enggak cukup sampai Hujan Bulan Juni, ada lagi puisi Sapardi yang terkenal yaitu Aku Ingin. Puisi ini ditulis pada tahun 1989 ketika istrinya sedang sakit.

Berikut ini adalah dua puisi terkenal Sapardi Djoko Darmono: Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni

1. Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabahDari hujan bulan JuniDirahasiakannya rintik rindunyaKepada pohon berbunga itu,

Tak ada yang lebih bijakDari hujan bulan JuniDihapuskannya jejak-jejak kakinyaYang ragu-ragu di jalan itu,

Tak ada yang lebih arifDari hujan bulan JuniDibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

2. Hujan Bulan Juni

Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan kata yang tak sempat diucapkankayu kepada api yang menjadikannya abuAku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan isyarat yang tak sempat disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Baca Juga: Sempat Heboh, Ini Kisah Kematian di Balik Lagu Resah oleh Payung Teduh

Puisi Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Darmono merupakan puisi dengan tema cinta.

Share
Topics
Editorial Team
Jefri Sibarani
EditorJefri Sibarani
Follow Us

Latest in Entertainment

See More

Son God Nika Sudah Muncul di One Piece Netflix Season 2?

17 Mar 2026, 17:00 WIBEntertainment