Sastrawan Ternama Indonesia Sapardi Djoko Darmono Wafat di Usia 80 Tahun

Sastrawan kenamaan Tanah Air yang populer dengan karya puisi Hujan di Bulan Juni, Sapardi Djoko Darmono, wafat di usia 80 tahun pada pukul 09.17 WIB, Minggu (19/7) pagi.
Berdasarkan informasi yang dikutip CNN Indonesia, sebelumnya Sapardi mengalami perawatan di Rumah Sakit Eka BSD, karena menurunnya fungsi organ tubuh.
Sastrawan yang lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 ini dikenal lewat berbagai puisinya mengenai hal yang penuh makna. Seperti cinta dan realita hidup.
Sehingga beberapa di antaranya sangat populer di kalangan masyarakat maupun para sastrawan Indonesia.
Kabar wafatnya Sapardi Djoko Darmono jadi trending topik di Twitter
“Pak Sapardi” diketahui menjadi trending topik saat ini di media sosial Twitter. Banyak orang merasa kehilangan selain dari warganet, ada juga penulis kenamaan Indonesia.
“Baru tiga hari lalu, ngobrolin foto ini dengan Mas Jokpin. Mau posting, sama-sama ragu. Selamat jalan, Pak Sapardi. Terima kasih atas semua karya dan teladan,” tulis Okky Madasari yang dikenal sebagai penulis buku berudull Maryam.
Selain penulis, ada juga tokoh organisasi NU serta pemimpin redaksi Tempo Media yang ucapkan terkait Sapardi Djoko Darmono wafat
“Sugeng tindak, Penyair ‘Hujan Bulan Juni’ Sapardi Djoko Damono. Semoga husnul khatimah,” ujar Akhmad Sahal, Pengurus Cabang Istimewa NU di Amerika, @sahaL_AS.
Pemimpin Redaksi Tempo juga mengucapkan salam perpisahannya. “Selamat jaln penyair rendah hati: Sapardi Djoko Damono,” tuturnya lewat akun @arifz_tempo.
Masa pendidikan Sapardi Djoko Damono

Sapardi menghabiskan masa mudanya di Surakarta dengan mengenyam pendidikan di sekolah SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1995 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958.
Takdir menjadi seorang sastrawan besar ia sudah telurkan di bangku sekolah dengan menuliskan sejumlah karya yang dikirim ke majalah-majalah.
Lantas saaat menempuh kiliah di bidang Bahasa Inggris Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, bakat menulisnya makin terasah dan berkembang.
Perjalanan karir seorang sastrawan yang jadi kebanggaan Indonesia

Kemudian, pada 1973, Sapardi hijrah ke Jakarta untuk menjadi direktur pelaksanan Yayasan Indonesia yang punya terbitan majalah sastra Horison.
Dari tahun 1974, ia sudah mengajar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Sapardi pun pernah menjabat sebagai dekan Sastra periode 1995-199 dan menjadi guru besar.
Banyak Kabar Duka! Ini 9 Artis Indonesia yang Meninggal di 2020, Terbaru Pelawak Omas
Ia juga pernah menjadi redaktur majalah Basis, Kalam, Pembinaan Bahaasa Indoensia, Majalah Ilmi-ilmu Sastra Indonesia, dan country editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur Malaysia.
Untuk Eyang, kami ucapkan selamat jalan. Karyamu akan dikenang selalu, selamanya. Damai buat Eyang.


















