Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hamada Shuichiro Bongkar Proses Pengembangan Game Where the Seeds Fall
Brand Producer CygamesEdge - Hamada Shuichiro (Dok. GGWP/Aditya)
  • Cygames EDGE merancang Where the Seeds Fall sebagai game menuruni lingkungan vertikal berbahaya, dengan kontrol berat, licin, momentum, dan angin agar setiap lompatan tetap berisiko.

  • Versi alpha dinilai terlalu presisi dan mengurangi ketegangan, sehingga tim menyesuaikan kontrol serta desain level agar rintangan terasa adil sambil pemain mengamati bahaya lingkungan.

  • Game ini mengisahkan kedekatan protagonis dan Fell Child melalui tindakan serta visual, sekaligus menjadi upaya Cygames EDGE menghadirkan pengalaman unik di luar proyek berskala besar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Cygames EDGE mengungkap pengembangan Where the Seeds Fall, game perjalanan menuruni lingkungan vertikal berbahaya dengan kontrol karakter yang sengaja dibuat berat, licin, dan tidak sepenuhnya presisi.
  • Who?
    Brand Producer Cygames EDGE Hamada Shuichiro, tim pengembang Cygames EDGE, protagonis, dan Fell Child terlibat dalam pengembangan serta cerita Where the Seeds Fall.
  • Where?
    Hamada menyampaikan penjelasan tersebut kepada GGWP di sela-sela gamescom Asia x Thailand Game Show 2026.
  • When?
    Penjelasan Hamada disampaikan pada Sabtu, 31 Oktober, saat gamescom Asia x Thailand Game Show 2026 berlangsung.
  • Why?
    Kontrol diubah karena versi alpha yang terlalu presisi membuat pemain mudah berhenti, mengatur arah, dan mendarat, sehingga ketegangan permainan berkurang.
  • How?
    Tim menambahkan bobot karakter, momentum, pengaruh angin, serta menyesuaikan desain level. Cerita hubungan protagonis dan Fell Child disampaikan melalui tindakan, ekspresi, interaksi, dan lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Cygames EDGE membuat game Where the Seeds Fall. Pemain harus turun dari tempat tinggi yang bahaya. Hamada Shuichiro bilang gerakannya dibuat berat dan licin supaya lompat terasa menegangkan. Tokoh utama pergi bersama Fell Child. Mereka tidak bicara dengan bahasa sama, tapi jadi dekat. Game ini belum punya rencana lanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cygames EDGE mengungkap alasan di balik keputusan membuat kontrol karakter Where the Seeds Fall terasa berat, licin, dan tidak sepenuhnya presisi.

Berbeda dari kebanyakan game bertema ketinggian yang mengandalkan aktivitas memanjat, game ini justru menantang pemain untuk menuruni lingkungan vertikal yang berbahaya.

Setiap gerakan dan lompatan dirancang agar memiliki risiko, bahkan ketika pemain semakin dekat dengan permukaan tanah.

Keputusan tersebut bukan sekadar pilihan mekanisme permainan. Tim developer harus melalui proses pengujian dan perombakan kontrol setelah menemukan bahwa versi awal justru belum mampu menghadirkan ketegangan yang diinginkan.

Brand Producer Cygames EDGE, Hamada Shuichiro, membagikan cerita di balik proses pengembangan tersebut dalam wawancara bersama GGWP di sela-sela gamescom Asia x Thailand Game Show 2026 pada Sabtu (31/10).

Menurut Hamada, Where the Seeds Fall berawal dari kompetisi pengembangan game internal perusahaan. Nama game ini bahkan sudah ditentukan oleh Creative Director yang pertama kali mencetuskan konsepnya sejak tahap prototipe.

Judul tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan kejatuhan atau keruntuhan, sesuai dengan inti permainan yang mengajak pemain melakukan perjalanan turun dari tempat tinggi.

Namun, membuat pengalaman turun yang menegangkan ternyata memiliki tantangan tersendiri. Dalam game yang berfokus pada aktivitas memanjat, rasa takut biasanya muncul karena pemain berada di ketinggian. Sebaliknya, dalam Where the Seeds Fall, pemain justru semakin dekat dengan tanah seiring berjalannya permainan. Tim developer harus mencari cara agar ketegangan itu tidak menghilang.

In Article GGWP_.png


Kontrol Berat yang Membuat Setiap Lompatan Terasa Berisiko

Salah satu keputusan penting tim pengembang adalah menghadirkan kontrol yang terasa berat dan tidak selalu responsif seperti game aksi pada umumnya.

Karakter tidak langsung berhenti ketika pemain melepaskan kendali. Permukaan tertentu juga terasa licin, sementara gerakan berbelok tidak selalu berjalan mulus sesuai keinginan pemain.

Hamada menjelaskan bahwa keputusan tersebut lahir dari proses evaluasi terhadap versi awal game.

Pada tahap alpha, durasi permainan baru sekitar 30 menit. Tim menemukan bahwa kontrol yang terlalu presisi justru mengurangi ketegangan karena pemain bisa berhenti, mengatur arah, dan mendarat dengan terlalu mudah.

“Kami merasa kontrolnya terlalu presisi, seperti game action pada umumnya. Pemain bisa berhenti dan mengarahkan karakter dengan sangat akurat. Hal itu membuat ketegangan yang ingin kami hadirkan justru berkurang,” jelas Hamada.

Tim kemudian melakukan berbagai penyesuaian terhadap parameter kontrol. Mereka menambahkan sensasi bobot pada karakter, momentum gerakan, serta pengaruh angin. Hasilnya, pemain tidak selalu bisa mengendalikan setiap gerakan dengan sempurna.

Proses tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar selama pengembangan. Desain level harus berjalan beriringan dengan karakteristik kontrol agar setiap rintangan tetap terasa adil, tetapi tidak kehilangan risikonya.

Tim ingin pemain memahami bahwa setiap lompatan membutuhkan pertimbangan, bukan sekadar menekan tombol dan berharap karakter mendarat dengan aman.

Selain mekanisme permainan, lingkungan juga berperan dalam membangun ketegangan. Kedalaman jurang dan kondisi area di sekitar karakter menjadi petunjuk visual mengenai bahaya yang menanti.

Dengan begitu, pemain tidak hanya mengandalkan kontrol, tetapi juga perlu memperhatikan situasi sebelum mengambil keputusan.

Kisah Protagonis dan Imigo Dibangun Lewat Interaksi

Di balik tantangan menuruni lingkungan berbahaya, Where the Seeds Fall juga membawa cerita emosional tentang hubungan dua karakter, yaitu protagonis dan Fell Child. Keduanya merupakan orang asing yang perlahan membangun kedekatan hingga hubungan mereka terasa seperti sebuah keluarga.

Hal menariknya, protagonis dan Fell Child tidak menggunakan bahasa yang sama. Keduanya tidak selalu bisa berkomunikasi melalui percakapan, sehingga hubungan mereka lebih banyak disampaikan lewat tindakan, ekspresi, dan interaksi selama perjalanan.

Pendekatan ini menjadi bagian penting dari cara tim menyampaikan cerita. Hamada ingin menunjukkan bahwa hubungan emosional tidak selalu membutuhkan bahasa yang sama. Pemain diharapkan dapat memahami kedekatan kedua karakter melalui pengalaman yang mereka lalui bersama.

Game ini juga mengandalkan penceritaan visual. Latar lingkungan, kejadian, dan interaksi antarkarakter menjadi sumber informasi bagi pemain. Bahkan, sejumlah musuh memiliki latar belakang cerita tersendiri. Pemain bisa menemukan petunjuk melalui cerita utama, meskipun tidak semua misteri dijelaskan secara gamblang.

Dengan pendekatan tersebut, developer memberikan ruang bagi pemain untuk menafsirkan sendiri sejumlah kejadian. Hamada berharap pengalaman bermain yang berlangsung sekitar tiga jam ini bisa meninggalkan kesan mendalam.

“Kami ingin pemain merasakan kesedihan sekaligus kepuasan setelah menyelesaikan game ini,” ungkapnya.

Salah satu momen yang paling dinantikan tim adalah bagian ketika lingkungan mengalami keruntuhan besar dan protagonis harus menyelamatkan Fell Child.

Hamada menyebut tim telah menghabiskan banyak waktu untuk mengembangkan adegan tersebut. Momen itu menjadi salah satu bagian yang paling ingin mereka perlihatkan kepada pemain.

Cygames EDGE Ingin Menghadirkan Pengalaman Game yang Berbeda

Pengembangan Where the Seeds Fall juga mencerminkan arah yang ingin dibangun Cygames EDGE. Menurut Hamada, unit ini hadir untuk melengkapi portofolio Cygames yang sudah dikenal melalui proyek berskala besar seperti Granblue Fantasy dan Umamusume: Pretty Derby.

Cygames EDGE ingin mengeksplorasi pengalaman bermain yang lebih unik, termasuk genre atau konsep yang mungkin tidak banyak mendapat ruang dalam pengembangan game arus utama. Tujuannya bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar pasar terbesar, melainkan menghadirkan game dengan identitas tersendiri.

Pendekatan tersebut juga diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pemain baru untuk mengenal Cygames. Di sisi lain, pemain yang sudah mengikuti berbagai franchise perusahaan juga bisa menemukan pengalaman berbeda melalui proyek-proyek Cygames EDGE.

Untuk saat ini, Hamada belum mengungkapkan rencana sekuel Where the Seeds Fall. Respons pemain setelah game dirilis akan menjadi salah satu pertimbangan apabila tim ingin mengeksplorasi kemungkinan tersebut.

Ia juga menyebut belum ada rencana khusus untuk menghadirkan kolaborasi dengan Umamusume: Pretty Derby, meskipun ide semacam itu menarik untuk dibayangkan.

Melalui Where the Seeds Fall, Cygames EDGE ingin membuktikan bahwa pengalaman bermain yang berkesan tidak harus selalu datang dari game dengan skala besar. Kontrol yang sengaja dibuat tidak sempurna, perjalanan penuh risiko, serta hubungan emosional antarkarakter menjadi kombinasi yang diharapkan mampu meninggalkan kesan bagi pemain setelah petualangan berakhir.

Top up game favoritmu sekarang lebih mudah dan hemat lewat GGWP Top Up. Mulai dari Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, sampai game-game lain favoritmu. Buktiin murahnya top up di GGWP Top Up.

FAQ

Apa itu game Where the Seeds Fall?

Where the Seeds Fall adalah game besutan Cygames EDGE yang mengajak pemain menuruni lingkungan vertikal berbahaya. Game ini menggabungkan gameplay penuh tantangan dengan cerita emosional tentang hubungan protagonis dan Fell Child.

Mengapa kontrol karakter Where the Seeds Fall dibuat tidak presisi?

Kontrol sengaja dibuat terasa berat, licin, dan tidak selalu responsif untuk mempertahankan ketegangan selama permainan. Developer ingin setiap gerakan dan lompatan memiliki risiko, sehingga pemain tidak bisa mengendalikan karakter dengan terlalu mudah.

Berapa lama durasi permainan Where the Seeds Fall?

Hamada Shuichiro menyebutkan bahwa durasi permainan Where the Seeds Fall ditargetkan sekitar tiga jam. Meski relatif singkat, game ini dirancang agar menghadirkan pengalaman yang intens dan meninggalkan kesan emosional bagi pemain.

Apakah Where the Seeds Fall akan mendapatkan sekuel atau kolaborasi dengan Umamusume?

Belum ada rencana sekuel maupun kolaborasi khusus dengan Umamusume: Pretty Derby. Hamada menyebut respons pemain akan menjadi salah satu pertimbangan untuk kemungkinan pengembangan selanjutnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article