Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel GGWP lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review Dune: Awakening, Arrakis Bukan Sekadar Planet Gurun, tapi Musuh yang Harus Ditaklukkan
Dunne Awakening
  • Dune: Awakening mengusung survival open world di Arrakis, tempat panas, air terbatas, badai pasir, dan Sandworm menjadikan lingkungan sebagai ancaman utama.
  • Cerita berlangsung di timeline alternatif tanpa Paul Atreides; pemain berkarakter original mencari Fremen sambil memahami konflik House dan lore melalui misi serta eksplorasi.
  • Versi PS5 menghadirkan combat lebih responsif dan opsi singleplayer yang dapat diatur, meski pengalaman multiplayer shared world membuat Arrakis terasa lebih hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dunia Dune selalu menggambarkan Arrakis sebagai tempat yang ekstrem. Hamparan gurun tanpa ujung, panas yang mematikan, minimnya sumber air, badai pasir, hingga keberadaan Sandworm membuat planet ini menjadi salah satu tempat yang rasanya tidak ingin kita kunjungi di dunia nyata.

Namun, bagaimana jika kita justru diberikan kesempatan untuk hidup di sana?

Konsep inilah yang coba ditawarkan Funcom melalui Dune: Awakening. Alih-alih membawa franchise Dune menjadi game action yang hanya berfokus pada konflik House Atreides dan House Harkonnen, game ini memilih pendekatan open world survival.

Pemain tidak sekadar datang ke Arrakis untuk menyelesaikan misi. Kita harus belajar bagaimana caranya bertahan hidup di planet yang seolah-olah sejak awal memang tidak menginginkan kehadiran manusia.

Dan justru di sinilah daya tarik terbesar Dune: Awakening berada.

Arrakis Adalah Karakter Utama Dune: Awakening

Dunne Awakening

Hal pertama yang mencuri perhatian dari Dune: Awakening tentu saja Arrakis.

Funcom berhasil membuat gurun yang secara kasatmata mungkin terlihat kosong menjadi bagian penting dari gameplay. Bukit pasir, formasi bebatuan, Spice Plume, hingga perubahan pencahayaan sepanjang perjalanan memberikan identitas kuat pada setiap perjalanan yang dilakukan pemain.

Kami mencoba bermain di platform PS5 untuk Dune: Awakening, dengan device ini terlihat bagaimana hamparan Arrakis terlihat cantik ketika matahari terbenam. Planet ini memiliki environment gurun yang tetap mampu terlihat indah sekaligus berbahaya.

Namun, pemandangan indah tersebut datang dengan konsekuensi.

Berada terlalu lama di bawah terik matahari bisa menjadi masalah. Persediaan air harus diperhatikan. Badai pasir bisa memaksa pemain menghentikan perjalanan, sementara berjalan sembarangan di pasir terbuka bisa mengundang salah satu makhluk paling mengerikan cacing besar Sandworm.

Arrakis sendiri adalah salah satu musuh utama dalam permainan ini. Dimana kita yang awam harus memiliki perhitungan yang matang agar bisa selalu survive dari waktu ke waktu, namun seiring berjalannya waktu ketika sudah memiliki camp dan transportasi tingkat kesulitan hidup di Arrakis menjadi berkurang.

Dune Tanpa Paul Atreides?

Dunne Awakening

Menariknya, Dune: Awakening tidak mencoba menceritakan kembali kisah yang sudah kita kenal melalui novel maupun film.

Game ini berlangsung dalam alternate timeline di mana Paul Atreides tidak pernah lahir. Lady Jessica mengikuti perintah Bene Gesserit dan melahirkan seorang anak perempuan bernama Ariste.

Pemain sendiri menggunakan karakter original yang terseret ke dalam konflik tersebut dengan salah satu tujuan utama mencari keberadaan Fremen.

Pendekatan alternate timeline ini menjadi keputusan yang cukup menarik karena Funcom mendapatkan kebebasan untuk bermain dengan lore Dune tanpa harus mengikuti seluruh kejadian dari cerita aslinya.

Main quest, side quest, dokumen, hingga berbagai rekaman yang ditemukan selama eksplorasi juga membantu memperluas world building yang ada.

Bagi pemain yang sama sekali tidak familiar dengan Dune, nama organisasi, House, karakter, hingga terminologi yang dilemparkan sepanjang permainan mungkin membutuhkan waktu untuk dipahami.

Survival Jadi Jantung Permainan

Dunne Awakening

Secara fundamental, loop gameplay Dune: Awakening sebenarnya cukup familiar bagi pemain game survival.

Kita mengumpulkan material, melakukan crafting, membuat senjata, membangun base, meningkatkan kemampuan karakter, kemudian perlahan mendapatkan teknologi dan equipment yang semakin canggih.

Dalam game ini “Sumber Air” menjadi resource penting. Panas matahari harus diperhitungkan ketika melakukan perjalanan. Sandstorm dapat mengubah rencana eksplorasi, sementara Sandworm membuat perjalanan melintasi area pasir terbuka memiliki risiko tersendiri.

Hal sederhana seperti berpindah dari satu formasi bebatuan menuju bebatuan lainnya akhirnya bisa menghasilkan ketegangan.

Apalagi ketika getaran langkah mulai menarik perhatian Sandworm. Hal ini membuat pemain jadi terlatih berjalan seperti ninja.

Combat Mulai Terasa Lebih Berisi

Dunne Awakening

Survival tentunya bukan satu-satunya tantangan di Arrakis.

Pemain juga akan berhadapan dengan scavenger maupun berbagai kelompok lain yang menghuni planet tersebut.

Combat memadukan penggunaan melee, ranged weapon, ability karakter, dodge, hingga parry. Musuh yang menggunakan shield juga mengharuskan pemain mencari momentum yang tepat untuk menembus pertahanannya.

Dalam build konsol PS5 fighting combat menjadi terasa lebih punchy dan tidak se-floaty bermain di PC yang menggunakan keyboard dan mouse. Window untuk melakukan parry juga dibuat lebih toleran, tidak terlalu semengerikan seperti game-game RPG generasi baru saat ini.

Versi PS5 turut memanfaatkan adaptive trigger DualSense untuk memberikan sensasi tambahan ketika menggunakan melee weapon seperti knife atau rapier.

Mau Bertahan Hidup Sendirian atau Bareng Pemain Lain?

Dunne Awakening

Salah satu perubahan besar yang hadir bersama versi konsol adalah pilihan memainkan Dune: Awakening sebagai pengalaman singleplayer.

Menariknya, pemain diberikan kontrol cukup luas terhadap experience mereka.

Kesulitan survival dapat disesuaikan. Jumlah XP hingga aturan pembangunan juga dapat diatur sehingga pemain bisa menentukan apakah ingin Arrakis yang lebih hardcore atau pengalaman yang lebih santai.

Pilihan ini membuat Dune: Awakening semakin mudah dimainkan bagi mereka yang sebenarnya tertarik dengan universe Dune tetapi tidak terlalu menyukai interaksi MMO.

Meski demikian, ada sesuatu yang hilang ketika Arrakis dimainkan sendirian.

Dune: Awakening sejak awal dibangun dengan konsep shared world. Bertemu pemain lain di tengah perjalanan, melihat bangunan milik kelompok lain, melakukan trading, berkendara bersama, atau melihat survivor lain dikejar Sandworm menghasilkan berbagai momen tidak terduga yang sulit direplikasi oleh single-player.

Hal ini berbeda ketika kalian bermain mode multiplayer yang memberikan sensasi Arrakis yang lebih hidup dibandingkan permainan solo.

Pilihan terbaik pada akhirnya kembali ke preferensi masing-masing pemain.

Visual dan Audio Membuat Arrakis Terasa Berbahaya

Dunne Awakening

Dune: Awakening juga cukup berhasil dalam urusan presentasi.

Secara visual, Funcom tidak hanya mencoba membuat gurun yang cantik. Environment dibuat untuk terus mengingatkan pemain bahwa Arrakis merupakan tempat yang berbahaya.

Badai pasir yang mulai mendekat, perubahan pencahayaan, gurun luas yang membentang di kejauhan, hingga skala Sandworm membantu menjual fantasi berada di planet tersebut.

Audio memiliki peran yang sama penting. Dune: Awakening tahu bahwa rasa takut tidak selalu harus datang dari melihat musuh. Terkadang, mendengar sesuatu yang sedang mendekati kita sudah cukup.

Gemuruh Sandworm yang semakin dekat ketika pemain terlalu lama berada di pasir menciptakan tekanan tersendiri. Begitu pula suara badai pasir yang masih dapat terdengar dari dalam base maupun gua.

Kesimpulan: Selamat Datang di Arrakis

Dunne Awakening

Hal paling menarik dari Dune: Awakening bukan sekadar fakta bahwa Funcom berhasil membuat game survival menggunakan lisensi Dune.

Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana developer mencoba menerjemahkan karakter Arrakis menjadi gameplay.

Dune: Awakening mungkin bukan game yang langsung memberikan kepuasan sejak beberapa menit pertama. Banyak hal harus dikumpulkan, dipelajari, dan dibuka secara perlahan.

Namun bagi pemain yang bisa menikmati proses tersebut, perjalanan dari seorang survivor yang hanya berusaha mencari air sampai akhirnya mampu menjelajahi Arrakis dengan teknologi yang semakin maju menjadi salah satu daya tarik terbesarnya.

Game ini tidak hanya mengajak kita mengunjungi Arrakis, tapi juga mencoba membuat kita memahami kenapa bertahan hidup di Arrakis adalah sebuah pencapaian.

Untuk merayakan peluncuran pembaruan terbaru ini, Dune: Awakening kini tersedia dengan diskon 50% di Steam, diskon terbesar untuk gim ini sejauh ini, hingga 8 Oktober.

Dune: Awakening kini tersedia di PlayStation 5, PlayStation 5 Pro, XBOX Series X|S, dan Windows Store, serta sepenuhnya mendukung XBOX Play Anywhere. Artinya, progression pemain akan tetap terbawa saat bermain melalui konsol XBOX, PC Windows, ROG XBOX Ally, maupun XBOX Cloud Gaming. Fitur cross-play telah dikonfirmasi akan hadir setelah peluncuran.

Dune: Awakening juga akan tersedia melalui XBOX Game Pass mulai 22 September. Anggota XBOX Game Pass yang ingin mulai bermain lebih awal dapat membeli Deluxe Edition atau Ultimate Edition dengan diskon 20%.

Beli Dune: Awakening sekarang lebih mudah dan hemat lewat GGWP Top Up. Mulai dari Steam Wallet, PSN, XBOX Gift Card sampai voucher game lain. Buktiin murahnya top up di GGWP Top Up.

Editorial Team

Related Article